Harga Timah Sudah Kembali ke Jalur Kenaikan

Tim_Wow    •    Jumat, 10 September 2021 | 09:57 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Harga timah di pasar London dan Shanghai kembali naik. Sejak Kamis (9/9/2021) harga timah kontrak tiga bulan kembali ke level US$33.125 per metrik ton setelah pagi harinya berada di lUS$ 32.650 per metrik ton. Sejak akhir pekan lalu harga timah terus terkontraksi sebelum kembali terkerek naik.

Tidak saja timah, logam dasar lainnya pada Jumat (10/9/2021) pagi di Shanghai Futures Exchange (SHFE) semuanya naik lebih tinggi karena Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga tidak berubah dan dolar AS melemah. 

Logam di London Metal Exchange (LME) semuanya naik dalam perdagangan sehak hari Kamis. Tembaga naik 1,35%, aluminium naik 1,61%, timbal naik 1,01%, dan seng menang 0,74%.

"Logam SHFE juga naik secara keseluruhan semalam. Tembaga naik tipis 0,83%, aluminium naik 0,29%, timah naik 0,4%, seng menang 0,4%, dan nikel naik 1,79 % mencapai level tertinggi 255.000 yuan/mt selama sesi malam Kamis, dengan bunga terbuka naik," demikian laporan Shanghai Metal Market (SMM), Jumat (10/9/2021).

Menurut analis SMM peningkatan produksi timah batangan pada Agustus dan pembukaan impor membawa ekspektasi pasokan yang lebih besar ke pasar. 

"Masih harus dilihat apakah permintaan dari industri elektronik akan meningkat setelah musim sepi berakhir. Kontrak timah SHFE yang paling banyak diperdagangkan diperkirakan akan menemui resistance di 255.000 yuan/mt dan menemukan support di 249.500 yuan/mt pada hari Jumat," ujarnya.

Para pengamat pasar memperkirakan harga timah  masih akan menguat hingga akhir tahun karena terdorong meningkatnya kebutuhan timah di pasar global serta ketersedian yang terbatas akibat Covid-19.

Peningkatan harga timah saat ini didukung juga kebutuhan alat elektronik yang meningkat sepanjang pandemi. Selain itu, kebutuhan untuk baterai mobil listrik, perkembangan 5G, serta proyek energi terbarukan akan terus meningkat dan akan mengerek permintaan timah.

Dari sisi persediaan, masih ada penurunan produksi dari negara penghasil timah terbesar seperti Indonesia dan Malaysia yang terdampak akibat pandemi. Myanmar juga masih mengalami situasi politik. Sehingga berdampak pada inventory global yang menurun, terlihat dari total stok timah LME dan China yang hanya 3 juta ton, turun 66,2% secara yoy. (wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE