Dahlia: PLTN Berbahan Thorium PT ThorCon Masih Jauh

Robby_Salim    •    Selasa, 14 September 2021 | 22:46 WIB
Lokal
Bapeten melalui Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir (PKN) menggelar Pembinaan Peraturan Perundang-undangan Ketenaganukliran, di Swissbell Hotel Pangkalpinang kepada sejumlah pihak terkait termasuk perusahaan pertambangan.(dwi/wb)
Bapeten melalui Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir (PKN) menggelar Pembinaan Peraturan Perundang-undangan Ketenaganukliran, di Swissbell Hotel Pangkalpinang kepada sejumlah pihak terkait termasuk perusahaan pertambangan.(dwi/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berbahan bakar Torium oleh PT ThorCon International, Pte. Ltd di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menarik perhatian Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (Bapeten) Republik Indonesia. 

Bapeten melalui Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir (PKN) menggelar Pembinaan Peraturan Perundang-undangan Ketenaganukliran, di Swissbell Hotel Pangkalpinang kepada sejumlah pihak terkait termasuk perusahaan pertambangan. 

"Berkenaan dengan pembangunan PLTN ini banyak syarat yang harus dipenuhi perusahaan," kata Deputi PKN Bapeten, Dra Dahlia C Sinaga di Pangkalpinang, Selasa (14/9/2021). 

Menurutnya, perlu banyak waktu yang dipersiapkan oleh PT ThorCon untuk menuju ke pembangunan PLTN ini.

"Dan sejauh ini, mereka belum sampai ke Bapeten, baru sebatas konsultasi ke kami," jelas Dahlia. 

Dahlia melanjutkan memang banyak keuntungan dengan terbangunnya PLTN ini negeri ini. Namun, terlepas dari itu keselamatan harus tetap diutamakan.

"Makanya persyaratan itu harus dipenuhi, dari izin lokasinya, kontruksi yang memenuhi keselamatan, komponen dan sistem," paparnya. 

"Bahkan sampai akan mengalirkan listrik, semua harus kedepankan keselamatan, keaman dan saveguard, yang artinya bahan nuklir untuk tujuan damai," terangnya lagi. 

Selain Bangka, berdasarkan pengamatan dari Bapeten, Pulau Kalimatan merupakan pilihan untuk membangun PLTN. Hal ini mengingat kedua pulau itu tidak masuk dalam cicin api, tak ada gempa maupun gunung merapi.

"Tapi tetap terus dievaluasi, makanya selain manfaat, kami menyarankan untuk pelaku usaha ini mengedukasi tentang tentang resiko terburuk, namun disertai dengan antisipasinya," tukas Dahlia.

"Perusahaan harus transparan dengan setiap hal kepada masyarakat, terkhusus akibat terburuknya," harapnya. 

Dahlia juga menambahkan, Babel menjadi salah tujuan utama pembinaan karena adanya potensi mineral radioaktif dan pembangunan pembangkit nuklir.

"Oleh karenanya, pemangku kepentingan di Babel sangat penting untuk mendapatkan informasi terakhir regulasi yang berlaku dan yang ditinjau kembali, sehingga dapat memperoleh gambaran besar kerangka regulasi tenaganukliran," ungkapnya.

"Mengabaikan keselamatan akan berdampak pada kegiatan usaha, maka dari itu Bapeten hadir, selaku pihak pemerintah sebagai pengawas," tandas Dahlia. 

"Sehingga dalam hal kepentingan pelaku usaha dan masyarakat dan lingkungan harus diseimbangkan dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan," pungkasnya. 

Diketahui, sebelumnya PT ThorCon International, Pte. Ltd mengklaim rencana pembangunan PLTN berbahan thorium di Babel diterima oleh sebagian masyarakat lewat survei responden dari akademisi sekitar 73,73 persen. 

Hanya saja, survei ini tidak merincikan berapa jumlah dan kalangan mana saja yang telah disurvei di tujuh kabupaten/kota di Babel. 

Pihaknya sendiri memahami alasan masyarakat yang belum menerima ini karena belum mendapatkan informasi dengan baik, oleh sebab itu osialisasi akan terus gencar dilakukan guna menepis miss informasi dan disinformasi. (dwi/wb)




MEDSOS WOWBABEL