264 Tahun Kota Pangkalpinang, Kemiskinan dan Pengangguran Terus Meningkat

Robby_Salim    •    Sabtu, 18 September 2021 | 16:49 WIB
Opini
Caption: Garis Kemiskinan Kota Pangkalpinang. (IST)
Caption: Garis Kemiskinan Kota Pangkalpinang. (IST)


"Maraknya kegiatan dan perencanaan pembangunan belum sepenuhnya mampu menyejahterakan masyarakat Kota Pangkalpinang"


Oleh: Robby Putra Salim


Telah 264 tahun umur Kota Pangkalpinang, angka yang cukup tua menjadi bagian kota di Indonesia. Hari Jumat, 16 September 2021 Kota Pangkalpinang merayakan dirgahayunya ke-264 tahun. Meskipun begitu, kota yang secara de facto pernah menjadi Ibu Kota Indonesia pada tahun 1959 masih jauh tertinggal dibanding kota maju yang ada di Indonesia

Memahami keadaan Kota Pangkalpinang dari sisi pertumbuhan ekonomi selama 3 tahun terakhir, perekonomian Pangkalpinang selalu mengalami penurunan. Pada Tahun 2018, laju pertumbuhan ekonomi Kota Pangkalpinang sebesar 5.17 persen turun ke 3.34 persen pada tahun 2019. Dan pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi kota pangkalpinang mengalami kontraksi ke -3.02 persen. Untuk skala Provinsi Bangka Belitung, pertumbuhan ekomoni Kota Pangkalpinang berada di bawah provinsi sebesar -2.3 persen.

Jika dilihat dari PDRB ADHB Kota Pangkalpinang tahun 2020 adalah 13.463.751 juta rupiah, menurun dibandingkan tahun 2019 yang nilainya 13.653.255 juta rupiah. Demikian juga dengan PDRB ADHK juga mengalami penurunan dari 9.071.472 juta rupiah di tahun 2019, menjadi 8.797.810 juta rupiah di tahun 2020.

PDRB dapat disebut sebagai jumlah keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua kegiatan perekonomian di seluruh wilayah dalam periode tahun tertentu. Seperti pendapatan, PDRB biasanya disajikan dalam bentuk per kapita. Hal ini menunjukkan gambaran dan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah tertentu.

Maraknya kegiatan dan perencanaan pembangunan belum sepenuhnya mampu menyejahterakan masyarakatkota Pangkalpinang. Pembangunan di berbagai sektor juga belum dapat menampung dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Dapat kita lihat bahwa hingga kini masalah kemiskinan belum bisa ditanggulangi dengan baik. Bahkan semakin maraknya pembangunan semakin menambah deret kemiskinan di kota ini. 

Kota yang memiliki penduduk sebesar 218.569 masih dibayangi angka kemiskinan dan pengangguran yang terus meningkat. Ibu Kota Provinsi Bangka Belitung ini tidak memberikan sinyal untuk menekan angka kemiskinan. Bila dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkapinang, kota ini mengalami kenaikan angka kemiskinan dan pengangguran dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan data BPS, tahun 2019 ada 9 ribu penduduk miskin atau 4.25% . Kemudian data tahun 2020 menjadi 9.4 ribu atau 4.36%. Artinya jumlah penduduk miskin bertambah dari 2019 ke 2020. Perlunya program yang lebih serius dari pemerintah dalam menguraikan angka kemiskinan di kota pangkalpinang.

Demikian dengan tingkat pengangguran terbuka di kota pangkalpinang juga mengalami trend meningkat. Pada tahun 2018, angka pengangguran di Pangkalpinang sekitar 4.7%, di tahun 2019 sekitar 5.01% dan pada tahun 2020 sebesar 6,93%. Lonjakan pengangguran terbuka ini perlu diwaspadai dan segera diantisipasi dengan program yang lebih tepat sasaran.

Dari semua paparan di atas, Pangkalpinang masih punya peluang positif dengan meningkatnya angka Indeks pembangunan Manusia (IPM). IPM Kota Pangkalpinang tahun 2020 sebesar 78.2 angka ini di atas angka IPM provinsi sebesar 71.47 % dan IPM nasional sebesar 71.94. Dalam hal ini, kualitas Pendidikan dan Kesehatan di Pangkalpinang membaik. Jika dapat dimaksimalkan, ini akan memetik bonus demografi kota Pangkalpinang ke depan.

Bonus demografi yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun) . Karena ini Kota pangkalpinang perlu memaksimalkan bonus demografi, ketersediaan sumber daya manusia usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan, termasuk kaitannya dalam menghadapi keterbukaan pasar tenaga kerja.(*) 




MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE