Tambang Timah dan Cerita Kotak Pandora

Jurnalis_Warga    •    Rabu, 22 September 2021 | 21:11 WIB
Opini
Ranto (Dosen Ilmu Politik UBB dan Peneliti di Yayasan Kapong Sebubong Indonesia).(ist)
Ranto (Dosen Ilmu Politik UBB dan Peneliti di Yayasan Kapong Sebubong Indonesia).(ist)


Oleh: Ranto (Dosen Ilmu Politik UBB dan Peneliti di Yayasan Kapong Sebubong Indonesia)


Dalam mitologi masyarakat Yunani Kuno ada sebuah kisah yang begitu terkenal. Yakni tentang sebuah kotak hadiah yang diberikan untuk manusia tetapi tidak boleh dibuka. Karena manusia yang telah diciptakan tadi memiliki ambisi untuk setara dengan dewa-dewa yang menciptakannya dengan mencuri api, maka Jupiter pun murka dengan kelakuan manusia tadi. Sebagai bentuk hukuman, Jupiter menciptakan seorang manusia berjenis kelamin perempuan bernama Pandora.

Lalu, Pandora diberikan kepada Prometheus namun ditolak karena meyakini bahwa pemberian hadiah dari para dewa sebagai bentuk hukuman dan tidak memberikan faedah apapun setelah dia mencuri api milik para dewa. 

Sebaliknya, Pandora diterima dengan tangan terbuka oleh Epimethius yang merupakan saudara dari Prmethius.

Singkat cerita, muncul utusan Jupiter bernama Mercury yang membawa sebuah kotak yang begitu indah. Jupiter mengingatkan kepada Mercury untuk tidak membuka Kotak tersebut. Bahkan, Jupiter melarang kerasuntuk membuka kotak tadi.

Seiring perjalanan waktu, kotak yang dilarang untuk dibuka semakin membuat Pandora penasaran. Begitu penasaran, Pandora pun membukanya untuk menyingkap tabir misteri di dalam kotak itu.

Setelah dibuka, beterbangan sejumlah mahkuk kecil bersayap coklat yang membawa benih penyakit yang membuat kekacauan. Karena mahluk kecil ini, kehidupan yang semula damai, tentram dan harmonis berubah menjadi kehidupan yang penuh konflik.

Dalam suasana kacau balau, terdengar suara kecil yang ada di dalam kotak misterius tadi. Lalu, Pandora kembali membukanya. Setelah dibuka untuk kedua kalinya, keluarlah mahluk pembawa harapan. Keadaan semula menjadi kacau kini tertib kembali.Kekacauan dan ketertiban datang silih berganti sejak Pandora membuka kotak tersebut.

Penggalan kisah ini sengaja dipilih untuk menganalogikan praktek pertambangan timah di era otonomi daerah. Paska timah dilegalkan ternyata membawa sisi positif dan negatif.

Membuka Kotak Pandora Penambangan Timah Jilid 1: Luka Lama yang Belum Sembuh

Bangka Belitung begitu kaya dengan sumber daya alamnya seperti timah. Jejak sejarah mencatat ketika timah ditemukan oleh Wan Akub secara tanpa sengaja berabad silam, sejak saat itulah eksploitasi alam mulai dilakukan pula. Memasuki era kolonialisme Belanda, nyaris 350 tahun tanah yang ada di Pulang Bangka dan Pulau Belitung dibongkar untuk diambil pasir logam timahnya. Tak hanya itu, ketika Indonesia sudah merdeka dari Jajahan Belanda, keberadaan logam timah masih diandalkan hingga hari ini.

Ada dua fase sejarah yang begitu penting untuk diingat terkait dengan eksploitasi timah ini. Periode era Orde Lama dan Orde Baru, timah menjadi monopoli negara. Lalu, tiba masa reformasi berkumandang, keberadaan timah tidak dimonopoli oleh negara lagi. Masyarakat biasa dapat menikmatinya dengan cara mengekploitasi secara bebas tanpa pengontrol yang memadai.Melalui Perda No. 6 Tahun 2001 yang dikeluarkan oleh Kabupaten Bangka pada waktu itu menjadi lembaran baru untuk mengatur tata niaga pertimahan.

Menggali timah dan memperdagangkannya dengan bebas merupakan potret keseharian yang begitu mudah ditemui. Dengan cara legal maupun ilegal. Rasa suka cita untuk menikmati sumberdaya alam tak terbendung.Inilah awal carut marut pertambangan mineral timah. Sejarahwan spesialis pertambangan di Asia sekaligus peneliti senior di LIPI, Prof. Erwizamenyebutkan bahwa pada fase ini tata niaga pertimahan telah melahirkan “Negara Bayangan". Aktor non formal (Cukong Timah dan kroninya) lebih berkuasa dari aktor formal (Gubernur). Pasar gelap menampakkan wajahnya yang sempurna. Praktek tambang ilegal, penyelundupan, penggelapan pajak dan seterusnya tidak bisa dihentikan. Di periode 2004-2015 saja, ICW mencatat ada potensi kerugian negara akibat aktifitas ekspor timah ilegal mencapai Rp 85,302 triliun.Negara (dengan segala perangkat yang dimilkinya) tidak berdaya.



MEDSOS WOWBABEL