Realisasi Inakes Rendah Sebabkan TPP ASN Basel Tak Dibayar

Aston    •    Rabu, 29 September 2021 | 14:07 WIB
Lokal
Kepala Dinkes Bangka Selatan, Supriyadi.(as/wb)
Kepala Dinkes Bangka Selatan, Supriyadi.(as/wb)

TOBOALI,www.wowbabel.com -- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Selatan menyatakan keterlambatan pembayaran insentif tenaga kesehatan (Inakes) yang menangani Covid-19 disebabkan  ada keterlambatan  tenaga kesehatan dalam mengurusi administrasi.

Baca Juga: Mendagri Larang Bayarkan TPP ASN di Bangka Selatan

Realisasi inakes dari dana sisa bantuan operasional kesehatan (BOK) Tahun 2020  sebesar Rp 3,5 Miliar maupun dana refocusing sebesar Rp 4,9 miliar belum mencapai 50 persen. 

Rendahnya realisi inakes tersebut, Kementerian Dalam Negeri melarang pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) seluruh ASN pada semester ke II Tahun 2021 dari Bulan Juli hingga September. 

"Seluruh kepala rumah sakit dan puskesmas sudah saya kumpulkan dua bulan yang lalu, ayolah temen-temen dikerjakan administrasinya jangan sampai lalai saya bilang," kata Kepala Dinkes Bangka Selatan, Supriyadi ketika dikonfirmasi. 

Syarat pencairan inakes dijelaskan Supriyadi melalui sistem aplikasi sistem rumah sakit sebagai persyaratan administrasi pencairan insentif. 

"Bulan terakhir sampai Juni kemarin tinggal dua puskesmas yang belum  yang lain sudah selesai, tapi minggu ini sudah dikerjakan,"  tuturnya. 

Menurut Supriyadi bahwa Dinas Kesehatan tidak menghambat pencairan inakes melainkan memang karena ada keterlambatan administrasi dari masing-masing satuan kerja kesehatan. 

" Satker yang masalahnya bukan kami yang menghambat karena Dinkes tidak ada insentif yang ada itu rumah sakit, puskesmas dan labkesda. Kalau karantina itu dana DAU tidak masuk dalam dana BOK," ujar Supriyadi

"Tapi bentuk tanggungjawab Dinas Kesehatan,  kami sudah mengingatkan dan menyegerakan kalau ada masalah ayo kita diskusi bersama-sama. Kami sudah open,"  sambungnya. 

Di samping realisasi dana BOK belum mencapai 50 persen, dana inakes yang bersumber dari refocusing masih sangat minim yang mana realisasi baru mencapai sekitar setengah miliar dari dana hampir Rp 5 miliar. 

"Rp 4,9 miliar  berasal dari refocusing itu sebenarnya untuk backup dana BOK habis jangan sampai nakes tidak ada insentif. Sementara BOK dana tahun 2020 tapi tidak habis karena angka kasusnya kita sedikit jadi tidak mungkin kita bagikan habis makanya jadi silpa untuk 2021," jelas Supriyadi. 

Lebih jauh ia menjelaskan, dana Rp 4,9 miliar merupakan dana cadangan daerah untuk dana inakes dalam penanganan Covid-19. 

"Makanya nanti kami bersurat dana Rp 4,9 miliar itu hanya alokasi cadangan anggaran. Jadi anggaran itu tidak bisa dipaksakan harus realisasi 50 persen," tandasnya. 

Sementara Kepala Inspektorat  Bangka Selatan menegaskan pihaknya tidak menghambat proses pencairan. 

"Sepanjang ada permohonan verfikasi dan berkas lengkap kami lanjut prosesnya. Dari inspektorat sederhana cukup ada berkas, oke," tukas PD Marpaung.(as/wb) 




MEDSOS WOWBABEL