Laju Kenaikan Harga CPO Terhenti

Tim_Wow    •    Kamis, 14 Oktober 2021 | 14:56 WIB
Ekonomi
Ilustrasi. (net)
Ilustrasi. (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) dunia yang menembus rekor terbaru akhirnya terhenti.  Minyak sawit berjangka di bursa  Malaysia turun sebanyak 3% pada  Kamis (14/10/2021). 

Kontrak minyak sawit acuan FCPOc3 untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 126 ringgit, atau 2,51%, menjadi 4.895 ringgit (US$1.178,10) per ton pada jeda  tengah hari.

"Eksportir sudah melihat efek dari harga minyak sawit yang tinggi pada permintaan karena pelanggan enggan membeli pada harga ini," kata Mohsin Mohammad, Direktur eksportir Sarafiah Natural Resources yang berbasis di Selangor kepada Reuters.

Malaysia telah mempertahankan pajak ekspor November untuk minyak sawit mentah sebesar 8% tetapi meningkatkan harga referensi.

Berita eksportir minyak sawit terbesar dunia, Indonesia,  untuk menghentikan ekspor minyak nabati mentah di masa depan. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo, sehari sebelumnya juga mempengaruhi sentimen pasar. Kontrak berjangka minyak sawit mentah di Bursa Malaysia  pada Rabu (13/10/2021)  baru saja rebound dari kerugian  dengan ditutup pada level tertinggi baru sepanjang masa. Kontrak patokan minyak sawit untuk Desember 2021 melonjak RM 166 menjadi RM 5,021 per ton. 

Pedagang minyak sawit David Ng mengatakan, CPO berjangka ditutup di atas RM 5.000 untuk pertama kalinya karena India mengurangi bea masuk untuk satu bulan lagi. Selain itu, prospek ketatnya stok yang terus mengangkat sentimen di pasar.

Pemerintah India mengumumkan pemotongan bea masuk minyak sawit dari 24,75 persen menjadi 8,25 persen, efektif 14 Oktober 2021.

Kabar penurunan bea masuk  ini juga berdampak terhadap harga CPO di Bursa Indonesia (BKDI) . Pada Selasa kontrak minyak sawit mentah (CPOTR) menutup dengan kenaikan mingguan sebesar 4,80% ke level Rp 17.045,- per kg. 

Peningkatan tersebut terjadi di tengah lonjakan permintaan bahan pokok seperti minyak, gas, dan batu bara menyusul ekspektasi pemulihan ekonomi global – yang dikombinasikan dengan faktor fundamental CPO lainnya, membentuk fondasi harga yang kuat.

Dari sisi permintaan, sejumlah analis dan pelaku industri meyakini permintaan CPO akan terus meningkat, terutama pada kuartal IV 2021 dengan prediksi cuaca ekstrem, serta banyak aktivitas di konsumen utama, seperti seperti Cina dan India.

Persediaan CPO di kedua negara ini tergolong rendah. Cina memiliki persediaan 418.000 ton CPO, sedangkan India mencatat persediaan 1,7 juta ton minyak nabati. 

Di sisi lain, permintaan meningkat akibat krisis energi di Eropa, terutama pasca Brexit yang juga mendorong kenaikan harga produk substitusi utama seperti minyak sawit, minyak kedelai, dan produk turunan lainnya.

Dari sisi negara produsen, produksi CPO bulanan di negara-negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia akan mencapai puncaknya pada September-Oktober dan akan diikuti dengan tren penurunan produksi setelahnya. 

Apalagi konsumsi CPO di Indonesia semakin tinggi seiring dengan program pencampuran bahan bakar minyak (BBM) dengan minyak turunan CPO untuk dijadikan biodiesel.

Ke depan, harga minyak sawit (CPO) akan lebih memperhatikan pergerakan harga minyak mentah dunia yang saat ini sedang melesat menembus level tertingginya dalam enam tahun terakhir. (wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE