Polisi Smackdown Seorang Demonstran, Bukan Kali Pertama Aparat Main Otot

Jurnalis_Warga    •    Selasa, 26 Oktober 2021 | 05:53 WIB
Nasional
Kekerasan oknum polisi terhadap mahasiswa saat demontrasi sedang berlangsung.(ist/net)
Kekerasan oknum polisi terhadap mahasiswa saat demontrasi sedang berlangsung.(ist/net)

JAKARTA,www.wowbabel.com -- Lembaga kepolisian tengah menjadi sorotan akibat video tindak kekerasan terhadap mahasiswa sempat viral di media sosial. Banyak kalangan menyayangkan peristiwa tersebut.

Kejadian berawal pada Rabu, 13 Oktober 2021 lalu, ketika sejumlah mahasiswa melakukan aksi di depan komplek Pemkab Tangerang. Mereka meminta bertemu dengan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar yang saat itu berhalangan hadirkarena sedang merayakan HUT.

Aksi demo yang awalnya berjalan damai pun mulai memanas, para mahasiswa memaksa masuk komplek Pemkab Tangerang. Massa aksi terlibat aksi pun saling dorong dengan petugas yang melakukan pengamanan di lokasi.

Dalam proses tersebut, seorang aparat kepolisian dengan inisial Brigadir NP melakukan smackdown terhadap salah satu mahasiswa bernama Faris yang mengaku berasal dari kelompok mahasiswa Himaka Banten.

Dalam konferensi pers, Kapolresta Tangerang Kombes Wahyu Sri Bintoro menyebut, aksi smackdown yang dilakukan Brigadir NP itu bersifat refleks dan tidak bertujuan untuk sengaja mencelakai Faris.

Akibat tindakan kekerasan tersebut, Brigadir NP dikenai persangkaan pasal berlapis kepada terduga pelanggar dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri.

Brigadir NP telah dengan sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran aturan disiplin anggota Polri dan diberi sanksi terberat secara berlapis mulai dari penahanan di tempat khusus selama 21 hari, mutasi yang bersifat demosi menjadi Bintara Polresta Tangerang tanpa jabatan.

Selain itu, dia mendapatkan teguran tertulis yang secara administrasi akan mengakibatkan Brigadir NP tertunda dalam kenaikan pangkat dan terkendala untuk mengikuti pendidikan lanjutan.

Catatan panjang kekerasan aparat

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati mengatakan tindakan kekerasan yang dilakukan Brigadir menambah daftar hitam catatan panjang represifitas yang pernah dilakukan oleh aparat kepolisian.

Pada 2019, pihaknya mencatat 68 kasus tindakan kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian saat demonstrasi. Penangkapan sewenang-wenang pun telah memakan sebanyak 3.539 korban.

Tak hanya itu, penahanan sewenang-wenang juga terjadi pada 326 korban serta penyiksaan sebanyak 474 korban. Penyiksaan paling banyak dilakukan di kantor polisi atau saat ditangkap.



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL