Kenaikan Harga Timah Dorong Perusahaan Berlomba Penuhi Kebutuhan Dunia

Tim_Wow    •    Rabu, 17 November 2021 | 14:15 WIB
Ekonomi
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Momentum harga timah yang melonjak telah mendorong laba perusahaan peleburan timah  sepanjang tahun 2021. Setidaknya tiga perusahaan penambangan dan peleburan timah di Asia Tenggara bersiap memenuhi kebutuhan timah dunia. Namun, perusahaan peleburan mengalami kesulitan untuk memperoleh bahan baku berupa konsentrat timah.

Malaysia Smelting Corp. Bhd (MSC) asal Malaysia, PT Timah Tbk dari Indonesia, dan Thaisarco asal Thailand sudah pasang ancang-ancang. Pasar timah kedepan sangat prospek,  harga timah baru-baru ini mencapai rekor tertinggi, dan arah pembangunan global yang mempromosikan  lingkungan dan keberlanjutan, instalasi fotovoltaik, kendaraan listrik (EV) dan pertumbuhan elektronik menjadi pertanda baik untuk permintaan timah.

Permintaan timah yang terus tumbuh pesat justru menjadi tantangan bagai para produsen timah yang terus berjuang untuk mengimbangi permintaan karena produksi hilir yang terganggu dampak pandemi Covid-19 yang tidak pasti.

Pihak MSC baru-baru ini mengatakan tetap berhati-hati, dan  fokus pada efisiensi operasional dan meningkatkan semua bidang operasi, teknologi, tenaga kerja dan logistik.

MSC akan mengoperasikan pabrik Pulau Indah, dengan menggunakan teknologi yang lebih baru dan lebih efisien serta tenaga kerja yang lebih produktif. Pabrik baru ini  diharapkan dapat beroperasi akhir 2021. Dengan pemanfaatan tungku ISASMELT, MSC memperoleh efisiensi operasional yang lebih tinggi, biaya operasional dan tenaga kerja yang lebih rendah.

Untuk segmen penambangan timah grup, MSC mengatakan upaya untuk meningkatkan hasil penambangan harian dan meningkatkan produktivitas penambangan secara keseluruhan telah dilakukan, dengan grup juga menjajaki usaha patungan potensial dan inisiatif untuk memperluas kegiatan penambangannya.

Dalam pernyataan terpisah, CEO Grup MSC Datuk Dr Patrick Yong mengatakan grup tersebut memberikan kinerja yang kuat meskipun ada kendala yang timbul dari kebijakan pengetatatan oleh pemerintah. Sebab timah menjadi logam dasar dengan kinerja terbaik pada tahun 2021 karena harga mencapai rekor tertinggi menyusul defisit pasokan dan konsumsi yang kuat.

Yong mencatat MSC adalah penerima manfaat langsung dari harga timah yang menguntungkan dan tren ini diperkirakan akan bertahan dalam waktu dekat sejalan dengan meningkatnya permintaan timah di berbagai sektor termasuk elektronik konsumen, fotovoltaik serta untuk EV.

“Kami terus memperkuat fundamental dan kemampuan kami untuk tetap kompetitif sebagai produsen logam timah global. Selanjutnya, kami akan fokus pada peningkatan hasil produksi dan peningkatan efisiensi di seluruh grup, sambil tetap waspada terhadap perkembangan Covid-19 untuk menjaga kelangsungan bisnis dengan kepatuhan yang ketat terhadap prosedur operasi standar,” ujarnya.

Thaisarco Dapat Pasokan Australia Momemtum kenaikan harga timah dunia juga dimanfatkan oleh perusahan lainnya. Baru-baru ini Asosiasi Timah Internasional (ITA) melaporkan jika Jadar Resources mempercepat pengembangan tambang Khartoum setelah penandatanganan MoU dengan Thaisarco.

Kedua perusahaan telah menandatangani Nota Kesepahaman  yang tidak mengikat untuk menegosiasikan pasokan konsentrat timah masa depan dari proyek Khartoum Jadar di Queensland Utara, Australia.

Jadar mengakuisisi Khartoum pada Februari 2021 dari Jervois Mining. Area lisensi 390km  persegi berisi sejumlah besar bahan tambang timah, perak-timbal-seng, tembaga, dan tungsten, sedang dieksplorasi secara aktif oleh perusahaan. 

Thaisarco sebagai  pabrik peleburan timah terbesar keenam di dunia nantinya o mengambil 100% konsentrat dari proyek Khartoum berdasarkan kontrak. 

Jadar Resources saat ini memiliki proyek Mt Wells dan Maranboy di Northern Territories Australia bersama Khartoum. Dengan Mou ini, Thaisarco akan memperoleh pasokan konsentrat timah untuk kebutuhan dunia.

Sementara itu, PT Timah Tbk, perusahaan penambangan timah asal Indonesia baru-baru ini juga melaporkan jika perusahaan meraih keuntungan yang signifikan pada kuartal ketiga tahun 2021 menyusul kuatnya harga timah LME.

Dalam laporan kuartal terakhir, PT Timah Tbk melaporkan laba bersih sebesar Rp 612 miliar (sekitar US$ 4,28 juta) selama tiga kuartal pertama tahun ini, meningkat 340% dibandingkan periode yang sama tahun 2020. 

Produksi timah dari perusahaan milik negara selama kuartal ketiga  2021 naik sekitar 8% kuartal-ke-kuartal menjadi 7.205 ton tetapi sekitar 25% lebih rendah dari tahun 2020. Secara tahun ke tahun, produksi logam lebih rendah sekitar 49% dari tahun 2020.

Cemasakan Timah Indonesia

PT Timah Tbk memiliki konsesi penambangan timah di darat dan lepas pantai sengan 127 konsesi pertambangan di seluruh Indonesia, terutama di Provinsi Bangka-Belitung. 

“Selama tiga kuartal pertama tahun ini, produksi dari area lisensi ini turun sekitar 48% dibandingkan tahun 2020. Sebagian besar penurunan ini disebabkan oleh penambangan darat di pulau-pulau. Produksi tambang lepas pantai naik sekitar 14% tahun-ke-tahun hingga September,” tulis ITA internationaltin.org.

Eksploitasi tambang di laut menurut ITA, memicu kekhawatiran tentang umur panjang tambang PT Timah. Mengingat cadangan bijih turun sekitar 14% pada tahun 2020, dengan sumber daya turun sekitar 22% tahun-ke-tahun. 

Meskipun demikian,  Direktur Finance and Risk Management PT Timah Tbk, Wibisono kepada media mengatakan pihaknya terus melakukan eksplorasi untuk cadangan baru.

“Kegiatan eksplorasi atau penemuan cadangan baru terus dilakukan. Perseroan terus melakukan upaya intensif untuk meningkatkan kemampuannya dalam memproduksi bijih timah,” katanya.

PT Timah mematok produksi tahun 2021 sebanyak 30.000 ton turun dari tahun sebelumnya. Namun sebuah lembaga riset bisni Fitch Solutions Country Risk & Industry Research memperkirakan produksi timah Indonesia akan naik ke tingkat pra-pandemi pada tahun 2021. 

Menurut lembaga ini, produksi timah Indonesia pada akhir tahun 2021 diperkirakan sebesar 83.000 ton, naik 25% dari produksi tahun 2020 sebesar 66.400 ton.

Namun produksi timah Indonesia diperkirakan akan melambat pada tahun-tahun mendatang karena pembatasan terhadap penambang darat dan penambangan lepas pantai.

Data dari Kementerian Perdagangan RI, ekspor timah Indonesia hingga Oktober 2021 sudah berada di 60.347,97 ton setelah pada Oktober ekspor timah sebanya 7.798,94 ton naik dari bulan sebelumnya. 

Eskportir timah Indonesia tidak saja dilakukan PT Timah Tbk, masih ada beberapa perusahaan swasta lainnya yang masih rutin melakukan ekspor mellaui bursa dalam negeri.

Ekspor timah termasuk komoditas tambang yang turut andil dalam medorong pertumbuhan ekspor Indonesia selama tahu 2021. Indonesia sebagai pemasok timah terbesar setelah China. Dengan kodisi caangan yang makin terbatas akan memiliki dampak terhadap pemenuhan permintaan yang terus meningkat. (wb)



MEDSOS WOWBABEL