Komoditas Ekspor Ungggulan Waspada Siklus Commodity Supercycle

Tim_Wow    •    Kamis, 18 November 2021 | 14:09 WIB
Ekonomi
Caption: Presiden Joko Widodo saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (17/11/2021). (IST)
Caption: Presiden Joko Widodo saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (17/11/2021). (IST)

JAKARTA, www.wowbabel.com – Indonesia wajib mewaspadai berbagai risiko perkembangan ekonomi global guna menjaga pertumbuhan ekonomi nasional masa pandemi Covid-19. Diantaranya fenomena siklus commodity supercycle yang saat ini komoditas unggulan ekspor Indonesia sedang melonjak.

“Ini umumnya berlangsung, biasanya hanya berlangsung 18 bulan, jadi langkah-langkah antisipasi untuk itu harus diberikan dengan menguatkan industri pengelolaan yang berorientasi ekspor,” kata Presiden Joko Widodo saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (17/11/2021).

Presiden Jokowi menambahakan bahwa tantangan pada tahun 2022 akibat pandemi Covid-19 ada pada potensi berlanjutnya pandemi dan perlambatan ekonomi dunia. Oleh karena ini,  dia meminta agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2022 harus dapat menjadi instrumen utama dalam menggerakan pertumbuhan ekonomi nasional. 

“Karena itu, APBN di tahun 2022 harus bisa menjadi instrumen utama untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi, memperkuat daya tahan ekonomi, mengakselerasi daya saing kita, utamanya daya saing di ekspor dan daya saing di investasi,” jelasnya

Menurut Presiden, penajaman dan efisien belanja perlu dilakukan. Anggaran belanja yang tidak perlu dapat dialihkan ke anggaran belanja produktif dan anggaran tersebut diharapkan sudah dapat direalisasikan pada Januari 2022.

Sebelumnya Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyatakan, ekspor Indonesia pada Oktober 2021 tertinggi sepanjang sejarah. Adapun ekspor Indonesia tercatat sebesar 22,03 miliar dolar AS atau naik 6,89 persen dibanding bulan sebelumnya (MoM).

"Kinerja ekspor Oktober mencetak rekor baru dengan nilai ekspor bulanan tertinggi sepanjang sejarah, bahkan melampaui angka Agustus 2021 lalu," ujar Lutfi.

Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ekspor migas sebesar 9,92 persen dan nonmigas sebesar 6,75 persen. Kemudian, pertumbuhan ekspor nonmigas pada Oktober 2021 disebabkan peningkatan ekspor dari seluruh sektor, terutama pertambangan yang naik 20,11 persen dibanding bulan sebelumnya (MoM). Lalu, diikuti migas (9,91 persen), pertanian (2,70 persen), dan industri pengolahan (3,61 persen).

“Beberapa produk utama Indonesia yang menyumbang peningkatan kinerja ekspor nonmigas Oktober, antara lain bahan bakar mineral/batubara (HS 27) sebesar 26,59 persen dibanding bulan sebelumnya (MoM), lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) 19,12 persen, besi dan baja (HS 72) 11,35 persen, alas kaki (HS 64) 4,19 persen, serta berbagai produk kimia (HS 38) 2,99 persen," kata dia.

Supersiklus komoditas akan sangat menguntungkan bagi negara-negara produsen salah satunya adalah Indonesia. Namun bagi importir fenomena ini justru patut diwaspadai. 

Commodity supercycle merupakan periode di mana harga-harga komoditas mengalami kenaikan dalam waktu panjang. Biasanya periode ini terjadi setelah krisis. Saat dotcom bubble tahun 2000 setelah itu harga komoditas naik.

Kemudian pada 2008 pasca krisis keuangan global akibat subprime mortgage harga-harga komoditas ikut terkerek naik. Pemicu kenaikan harga komoditas adalah suku bunga rendah dan kebijakan fiskal ekspansif. 

Ketika suku bunga dipatok di level yang rendah maka bakal menstimulasi inpidu maupun korporasi untuk melakukan konsumsi maupun investasi. Komoditas termasuk raw materials di mana seringkali menjadi input bagi kebanyakan aktivitas ekonomi. 

Ketika suku bunga rendah, permintaan kredit untuk konsumsi dan investasi naik maka hal ini akan menggerek harga komoditas. Tahun 2021 digadang-gadang bakal jadi tahun boom komoditas lagi. 

Tren pelemahan dolar AS di tengah kebijakan makro yang akomodatif membuat harga komoditas beterbangan mulai dari agrikultur, pertambangan, migas hingga hortikultura.  (wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE