Jokowi Akan Stop Ekspor Timah

Tim_Wow    •    Rabu, 24 November 2021 | 15:18 WIB
Ekonomi
Caption: Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/11/2021). (IST)
Caption: Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/11/2021). (IST)

JAKARTA, www.wowbabel.com -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan tidak takut menghadapi gugatan negara manapun di World Trade Organization (WTO) atas keputusan pemerintah melarang ekspor bahan mentah nikel.

Bahkan Presiden Jokowi sudah berencana mengentikan ekspor komoditas mentah hasil tambang lainnya seperti bauksit, tembaga dan timah.  

Baca Juga: Erzaldi Senang Sekali Jokowi Tak Mau Ekspor Timah Lagi

“Kalau ingin nikel, silakan. Tapi datang bawa pabriknya ke Indonesia, bawa industri ke Indonesia, dan bawa teknologi ke Indonesia. Dikerjakan tidak sampai barang jadi juga tidak apa-apa,” kata Presiden Jokowi saat memberikan pengarahan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/11/2021).

Presiden Jokowi mempersilakan investor di sektor pertambangan yang ingin mengolah dan mengembangkan sumber daya alam itu untuk membangun industrinya di Indonesia.

Ia mengatakan, saat ini Indonesia telah memiliki infrastruktur untuk pengembangan komoditas pertambangan sehingga tidak diperlukan lagi mengekspor bahan mentah (raw material). 

“Ini sudah stop. Sudah kita mulai dari nikel, stop. Mungkin tahun depan dengan kalkulasi hitung-hitungan stop ekspor bauksit. Tahun depannya lagi, stop tembaga, tahun depannya lagi stop timah. Kita ingin agar bahan mentah itu semuanya diekspor dalam bentuk setengah jadi atau barang jadi,” katanya. 

Menurut Presiden Jokowi, keputusan pemerintah menghentikan ekspor bahan mentah dalam rangka  meningkatkan nilai tambah (added value) komoditas yang dimiliki negeri ini. 

Ia mencontohkan,  besi baja. Pada saat masih diizinkan  ekspor nikel,  pada sekitar 3 atau  4 tahun lalu, Indonesia hanya berada di angka US$ 1,1 miliar. 

Pada tahun ini, Presiden Jokowi memperkirakan, nilainya  melonjak hingga mencapai  US$ 20 miliar karena stok nikel dari Rp 15 triliun melompat menjadi Rp 280 triliun. 

“Ini akan memperbaiki neraca perdagangan kita. Memperbaiki neraca pembayaran, neraca transaksi berjalan kita menjadi lebih baik. Coba kita lihat tahun 2018, neraca perdagangan kita masih defisit, minus US$ 18,41 miliar. Sekarang ini, baru di bulan Oktober kita sudah menjadi minus US$ 1,5 miliar khusus ke RRT, yang dulu kita defisit, insya Allah tahun depan kita sudah surplus dengan RRT. Artinya, barang kita akan lebih banyak masuk ke sana dengan nilai yang lebih baik dari sebelumnya,” katanya.

Presiden Jokowi optimistis apabila larangan komoditas tambang terus diberlakukan maka pemasukan negara dan neraca perdagangan akan meningkat.

"Ini baru urusan nikel disetop, kalau nanti bauksit disetop, nilainya juga akan kurang lebih sama. Kita akan melompat kurang lebih di angka US$ 30 miliar. Satu komoditas, dua komoditas, tiga komoditas, empat komoditas. Bayangkan kalau itu semuanya diindustrialisasikan, dihilirisasikan di negara kita. Meskipun kita memang digugat di WTO. Tidak masalah," jelas Presiden Jokowi. (wb)



MEDSOS WOWBABEL