Erzaldi Senang Sekali Jokowi Tak Mau Ekspor Timah Lagi

Abeng    •    Kamis, 25 November 2021 | 09:53 WIB
Nasional
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman.(ist)
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman.(ist)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Gubernur Bangka Belitung  Erzaldi Rosman merasa senang dengan kebijakan Presiden Joko Widodo yang akan menghentikan ekspor timah untuk kemudian dibangun industri hilirnya.  Langkah hilirisasi komoditas timah akan memberikan nilai tambah, khususnya Bangka Belitung sebagai penghasil timah utama di Indonesia.

Baca Juga:Jokowi Akan Stop Ekspor Timah

“Saya senang sekali, ada satu kalimat Pak Presiden yang menyinggung masalah komoditi timah, yaitu dari nikel, boksit dan timah. Dimana ketiga komoditi ini secara bertahap harus dilakukan hilirisasi dan industrialisasi yang lebih baik, sehingga ada nilai tambahnya," kata Erzaldi Rosman  setelah mendengar langsung pengarahan Presiden Jokowi secara virtual  pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) Tahun 2021 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (24/11/2021).

Langkah Presiden Jokowi untuk hilirisasi komoditas timah menurut Erzaldi Rosman sejalan dengan apa yang direncanakan oleh pemerintah provinsi, agar timah memiliki nilai tambah yang memiliki dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Babel.

"Semoga menjadi harapan kita bersama bahwa timah dapat menjadi komoditi yang betul-betul ada nilai tambah dan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari royalti dan saham PT Timah seperti yang sudah kami diskusikan,” ujar gubernur bersemangat.

Dirinya mengatakan, menjadikan timah sebagai komoditi dengan nilai tambah, serta tingkat inflasi di Bangka Belitung yang cenderung meningkat menjadi tantangan yang harus dihadapi Bangka Belitung ke depan. 

Berbicara pada pertemuan tahunan Bank Sentral Indonesia, Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia sebagai  produsen timah terbesar kedua di dunia akan berhenti mengekspor timah pada tahun 2024.

“Kami sudah mulai dengan nikel. Mungkin tahun depan kita hitung, kita mungkin stop ekspor bauksit,” kata Presiden Jokowi sapaan populernya,  dikutip dari beberapa media.

“Tahun depan mungkin kita bisa hentikan  tembaga dan tahun berikutnya timah,” tambah presiden.

Berita itu membuat timah sebagai logam yang banyak digunakan di sektor elektronik langsung ke rekor tertinggi baru dengan kontrak tiga bulan mencapai US$ 40.000 per ton untuk pertama kalinya. 

Analis pasar komoditas logam Shanghai Metals Market (SMM) menanggapi rencana Presiden Joko Widodo untuk menghentikan ekspor sejumlah komoditas mentah hasil tambang, termasuk menghentikan ekspor timah. 

“Berita bahwa Indonesia akan menghentikan ekspor timah pada tahun 2024 akan lebih berdampak pada industri timah dalam jangka panjang,” tulis analis SMM dikutip dari news.metal.com, Rabu (24/11/2021). 

Debgan ekspor timah  Indonesia antara 70.000-80.000 ton per tahun hampir dari sepertiga kebutuhan timah dunia dipasok Indonesia yang ditambang dari Bangka Belitung. Kebutuhan timah tidak mampu dipenuhi oleh negara lain jika Indonesia menghentikan ekspor timahnya. (*)



MEDSOS WOWBABEL