Diskriminasi Perempuan oleh Masyarakat Dunia Maya

Jurnalis_Warga    •    Selasa, 30 November 2021 | 16:45 WIB
Opini
Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)

Oleh: Ramadhani Ichsan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Bangka Belitung

Berbicara mengenai kesetaraan gender, perlu dipahami apa itu kesetaraan gender terlebih dahulu, kesetaraan gender merupakan keadilan serta hak yang harus diperoleh oleh masing-masing gender. Gender sendiri merupakan ciri fisik serta sifat bawaan yang dibawa oleh masing-masing gender itu sendiri. 

Pada era ini, arus perkembangan teknologi dan komunikasi telah berkembang sangat pesat dan canggih, yang mana perkembangan ini bukan suatu hal yang harus dihindari karena perkembangan teknologi ini menawarkan berbagai manfaat yang baik, dan kepraktisan yang membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan efektif, meskipun demikian tidak bisa dipungkiri memang dalam suatu hal masih terdapat dampak buruk. 

Manfaat yang dapat dirasakan dan yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-sehari salah satunya yaitu adanya media sosial yang dapat diakses menggunakan smartphone. Dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun media sosial telah berhasil menggaet jutaan pengguna di seluruh Indonesia. berkat dukungan sinyal internet yang disediakan oleh berbagai provider, media sosial dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat. 

Program pemerintah untuk “menyelimuti” Indonesia dengan sinyal 4G telah membuka gerbang bagi perkembangan teknologi yang sangat pesat perkembangannya. Jaringan 4G dirilis di Indonesia pada 2014 lalu dan hingga kini sinyal 4G telah membawa berbagai macam manfaat serta perubahan yang berkaitan dengan media sosial dan teknologi, terutama di Indonesia. 

Berdasarkan data dari Hootsuite (We are Social): Indonesian Digital Report 2021, terdapat 170 juta penduduk pengguna Media sosial aktif setara dengan 61.8% dari jumlah populasi yang ada di indonesia .

Hal ini dapat dilihat di sekitar kita baik dari diri sendiri, dalam keluarga, teman dsb, dimana mereka memiliki akun media sosial di platform yang terkenal Adanya berbagai palform Media sosial seperti instagram, youtube, twitter, tik-tok dll, membuat inpidu dapat dengan mudah berinteraksi serta mengekspresikan diri. Selain itu media sosial telah menciptakan peluang bagi semua orang, termasuk bagi kaum perempuan untuk dapat dijadikan sebagai sebuah platform guna mengekspresikan diri, menyuarakan pendapat, dan lain sebagainya. 

Membahas mengenai kebebasan berekspresi, Pemerintah sudah memberikan naungan hukum bagi semua orang untuk memperoleh kebebasan berekspresi seperti ketetapan MPR No. XVII tentang Hak Asasi Manusia (HAM), Perubahan UUD 1945, UU No. 9 Tahun 1999 tentang HAM, serta ratifikasi berbagai instrumen HAM internasional adalah sejumlah kebijakan dan regulasi yang memberikan dasar perlindungan dan jaminan kebebasan berekspresi di Indonesia Namun kebebasan berekspresi ini hingga saat kini masih mengalami berbagai kendala, masih terdapat tekanan dari luar yang menghasilkan “suatu pembatasan” bagi seseorang untuk mengekspresikan dirinya, terutama bagi kaum perempuan.

Contoh kasus yang dapat dijumpai pada saat ini yakni pada berbagai aplikasi atau platform populer yang sudah sangat besar seperti Instagram, tiktok, Facebook, Twitter dan lain sebagainya, dalam berbagai platform tersebut terdapat beberapa fitur seperti komentar, stich, retweet dan lain sebagainya yang mana fitur tersebut dapat menjadi sarana atau dapat menjadi sebuah forum untuk netizen. 

Fitur ini dapat memicu atau menciptakan suatu wadah untuk berdiskusi, namun banyak dijumpai deskriminasi dan pembatasan terhadap perempuan yang membuat kaum perempuan mengalami keterbatasan untuk memperoleh secara sepenuhnya hak kebebasan berekspresinya melalui hal yang ia suka seperti melakukan dance, memberikan ilmu pengetahuan serta menyuarakan pendapatnya. Hal ini tentu menyinggung mengenai kesetaraan gender dimana perempuan masih dipandang sebelah mata serta dianggap dapat menuai berbagai kontroversi. 

Deskriminasi kepada kaum perempuan ini membuat mereka mengalami darurat kebebasan dalam berekspresi, para konten kreator wanita tersebut acap kali mengalami pembully-an serta mengalami bentuk deskriminasi lainnya, pemikiran masyarakat yang kurang terbuka akan pentingnya kesetaraan gender ditandai dengan banyaknya dijumpai pada kolom komentar. 

Netizen yang menunjukan deskriminasi terhadap perempuan seperti pada konten yang dibuat oleh wanita yang menyuarakan bahwa wanita perlu beberapa perlakuan yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi laki-laki, contohnya wanita boleh mencari nafkah layaknya kaum laki-laki, namun masih terdapat komentar netizen yang mengharuskan wanita untuk tetap dirumah dan tidak perlu mencari ilmu atau sekolah tinggi-tinggi, cukup laki-laki saja.

Dan saat ini makin banyak para konten kreator wanita yang memanfaatkan berbagai platform tersebut guna menyampaikan permasalahan yang mereka alami. Namun di sisi lain platform tersebut juga digunakan oleh pihak yang kurang setuju mengenai kesetaraan gender untuk memberikan tekanan serta deskriminasi kepada kaum Feminisme yang menyuarakan kesetaraan gender serta kaum perempuan untuk memperoleh keadilan. 

Mengetahui hal tersebut kita dapat merasakan betapa mirisnya di negeri ini karena masih banyak masyarakat yang belum mengenal atau memahami betul dan menerapkan kesetaraan gender, menganggap perempuan tidak lebih baik daripada laki-laki, meremehkan perempuan serta menolak feminisme dan kesetaraan gender. 

Seharusnya melalui media seperti ini dapat dijadikan tempat untuk para perempuan menyampaikan aspirasi serta keluh kesahnya dan juga menyuarakan tentang pentingnya kesetaraan gender serta kebebasan berekspresi, namun disisi lain pergerakan mereka masih mengalami pembatasan dan penolakan oleh segelintir orang. 

Dengan semakin banyak konten kreator yang speak up atau menyuarakan tentang deskriminasi serta pembullyan yang mereka alami, diharapkan dapat memperoleh simpati dan kepedulian serta dukungan masyarakat luas, yang kemudian diharapkan akan memberikan tingkat kepercayaan diri mereka serta membuka pikiran masyarakat agar terbuka lebar dan melihat manfaat yang dapat diambil dari permasalahan serta kejadian itu sebelum melakukan justifikasi, serta melalui opini ini diharapkan publik semakin memahami betapa pentingnya kesetaraan gender, terutama bagi kaum perempuan.(**)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE