Tambak Udang Vaname Merebak, 1,3 Miliar Ekor Benur Masuk ke Pulau Bangka

Dwi H Putra    •    Rabu, 12 Januari 2022 | 10:02 WIB
Lokal
Ilustrasi (dok/wb)
Ilustrasi (dok/wb)

PANGKALPINANG, www.wowbabel.com -- Investasi tambak udang vaname di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) semakin menggeliat, terbukti saat ini setidaknya berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Babel ada 137 lokasi tambak udang. 

Namun, sangat disayangkan hampir semua perusahaan belum bekerjasama dengan Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Babel terkait mutu benih udang atau benur yang bakal dibudidayakan. 

Apalagi, selama tahun 2020 hingga 2021 benur yang masuk ke Babel naik signifikan yakni sebanyak 0,8 miliar ekor selama 2020 sedangkan ditahun 2021 mencapai 1,3 miliar ekor atau naik 0,5 miliar ekor atau setara sebesar Rp 15 miliar. 

Hal ini menurut Kepala BKIPM Babel, Dedy Arief Hendriyanto, mutu benur sangat lah penting supaya kualitas udang yang bakal dipanen benar-benar terjamin sesuai nilai ekspor. 

"Suplay benih udang vaname pada tahun 2020 dan 2021 yang masuk dari wilayah lain ke Pulau Bangka naik signifikan, 0,5 miliar ekor atau setara nominal sebesar Rp 15 miliar," kata Dedy Arief kepada awak media diruang kerjanya, Selasa (11/1/2022) kemarin. 

Lanjutnya ada peluang untuk pengembangan pembenihan udang mandiri di Pulau Bangka dengan melibatkan BKIPM debagai Quality Assurance Mandatory KKP, agar dapat termonitor perkembangannya melalui Early Warning System.

"Laboratorium kami telah tersertifikasi ISO 17025 ; 17020 dan 9001, oleh karena itu periksakan benih udangnya sebelum tebar di tambak," jelas Dedy. 

"Kami bisa cek WSSV, TSV, IMNV, AHPND dengan metode PCR dan Vibrio parahaemolitycus dengan metode konvensional mikrobiologi," paparnya. 

"Jangan sampai nanti benur yang tidak sehat ditebar, otomatis nantinya akan gagal panen dan merugikan pengusaha itu sendiri," ulasnya. 

Oleh karena itu, nanti bulan Maret pihaknya akan melauching aplikasi Periksa Tambak Udang Menggunakan Karantina Onliene (Satam Kaolin), nantinya sistemnya by android. 

"Jadi nantinya pengusaha udang ini bisa mengetahui semuanya seperti virus udang, bakteri, kualitas air dan lainnya," ujarnya. 

Diakuinya dengan adanya aplikasi Satam Kaolin ini, pihaknya dapat memetakan daerah mana saja yang rentan penyakit, sehingga kedepannya bisa direkomendasikan kepada pengusaha jangan budidaya didaerah itu akan merugikan investasinya. 

"Jadi bisa diantisipasi terlebih dulu, agar investor ini tidak rugi," harap Dedy yang sebelumnya menjabat Kepala BKIPM Bandung. 

"Karena kami selain fungsi pelayanan, mengantisipasi masuknya benih ikan atau benur yang dikhawatirkan merugikan sosial dan ekonomi masyarakat," paparnya. 

"Saya baru satu bulan di Babel, jadi fokus awal di tambak udang, mengingat euforia tambak udang ini sebab harus dikendalikan penyakitnya," ujarnya. 

Pihaknya mengharapkan kerjasama para pengusaha atau investor tambak udang, sebab tidak ada yang bisa menjamin kesehatan benur tersebut apabila tidak diperiksa melalui laboratorium. (dwi/wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE