Perkara Penggelapan Perusahaan Kelapa Sawit di Basel Tak Sampai ke Meja Hijau

Aston    •    Jumat, 14 Januari 2022 | 17:25 WIB
Lokal
Caption: Jaksa melepaskan borgol ditangan tersangka penggelapan di perusahaan kelapa sawit, Kho Pin yang mendapat program restoratif justice kejaksaan negeri Bangka Selatan, Jumat (14/1/2021). (as/wb)
Caption: Jaksa melepaskan borgol ditangan tersangka penggelapan di perusahaan kelapa sawit, Kho Pin yang mendapat program restoratif justice kejaksaan negeri Bangka Selatan, Jumat (14/1/2021). (as/wb)

TOBOALI, www.wowbabel.com --  Satu lagi perkara tindak pidana di Kabupaten Bangka Selatan tidak sampai ke meja hijau atau peradilan. Kali ini, perkara  yang tengah ditangani kejaksaan Negeri Bangka Selatan. 

Satu perkara yang dihentikan jaksa, yakni perkara tindak pidana umum penggelepan yang terjadi di perusahaan kelapa sawit PT Bangka Malindo Lestari di Desa Sebagin Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan. 

Tersangka atas nama Kho Pin alias Ali dibebaskan oleh jaksa penuntut melalui mekanisme retorative justice atau keadilan restoratif. Penghentian penuntutan diputuskan jaksa pada Jumat (14/1/2021) yang berlangsung di Kantor Kejaksaan Negeri Bangka Selatan. 

Proses penghentian penuntutan dipimpin Pelaksana Harian Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Selatan, Yanuar Utomo. Dihadiri tersangka Kho Pin Alias Ali, perwakilan PT BML serta Kepala Desa Sebagin. Pelepasan borgol dari tangan tersangka tanda perkara dihentikan dan tersangka dibebaskan dari tuntutan peradilan. 

Yanuar Utoma menyampaikan bahwa, alasan penghentikan perkara diantaranya, tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana, telah adanya kesepakatan perdamaian antara korban dan tersangka, dan memenuhi kerangka pikir keadilan restoratif. Selain itu, sudah mendapat persetujuan dari Jaksa Agung 

" Sesuai hasil ekpose secara virtual pada hari Kamis Tanggal 13 Januari 2022 dengan arahan dan petunjuk jaksa agung muda tindak pidana umum bahwa perkara ini dapat disetujui penghentian penuntutan yang diajukan oleh kejaksaan negeri bangka selatan," kata Yanuar Utomo. 

Menurut Yanuar, restorative justive memang sudah menjadi program Kejaksaan RI, yang mana nilai kerugian dibawah Rp.2,5Juta dan ancaman tidak lebih dari 5 Tahun, maka kejaksaan akan mengedepankan restorative justice. 

" Namun RJ dapat diterapkan apabila ada kesepakatan perdamaian maka kami akan mengedepankan RJ (restorative justice)," tutur Yanuar. 

Untuk diketahui perkara tindak pidana penggelapan tersebut dilaporkan PT BML pada bulan November 2021 yang lalu ke pihak kepolisian Polsek Simpang Rimba. PT BML melaporkan dugaan tindak pidana penggelapan yang dilakukan Kho Pin alias Ali yang tak lain selaku tenaga buruh harian lepas bidang pengangkutan buah kelapa sawit di PT BML. 

Kho Pin warga asal Sungailiat yang sudah menetap di Desa Sebagin Simpang Rimba itu diketahui telah melakukan tindak pidana penggelepan buah kelapa sawit sisa sortir sebanyak tiga kali. Ironinya, angkutan truk yang digunakan pelaku adalah milik Kepala Desa Sebagin. (as/wb)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE