Jangan Buru-buru Dihabiskan, Kata Ahli Ini Harga Timah Bisa di Atas 50.000 Dolar AS

Tim_Wow    •    Senin, 21 Maret 2022 | 12:54 WIB
Ekonomi
ilustrasi.(net)
ilustrasi.(net)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com – Harga timah terkoreksi tajam pekan  kedua Marèt 2022. Turun lebih dari 11% dari level harga tertinggi menyentuh US$50.000 per metrik ton di London Metal Exchange (LME) yang citatat pada  7 Februari 2022. Harga timah sudah naik tiga kali lipat selama dua tahun terakhir. Bahkan kenaikan sudah lebih dari 300% kurun 10 tahun.

Setelah terkoreksi tajam, harga timah kemudian berhasil rebound walau belum mampu menembus level harga tertinggi. Gejolak harga timah yang menembus level harga tertinggi sepanjang masa di awal  memberikan proyeksi dalam jangka panjang tidak menutup kemungkinan melonjak lebih tinggi lagi. 

Tak main-main, Mark Thompson ahli timah dunia sekaligus juga ada di jajaran petinggi  Afri Tin yang bergerak di bidang pertambangan timah dunia memiliki target harga timah bisa menembus US$80.000 per metrik ton jika dunia sudah menjalankan konsep energi hijau.

Thompson awalnya memberikan target harga timah dunia natara  US$30-US$35.000 per ton untuk mendorong produksi timah yang pasokannya sangat terbatas di bursa utama logam London dan Shanghai tahun lalu.

Tapi dorongan harga belum sigifikan terhadap pasokan barang ke pasar, justru terjadi pergolakan yang  mendorong harga timah ke rekor tertinggi baru. Oleh sebab itu, Thompson kepada Stockhead baru-baru ini membuat target baru harga timah adalah US$50.000-US$80.000 per metirk ton, dengan inflasi lebih tinggi dari perkiraan dan pertumbuhan pesat produksi kendaraan listrik di balik perubahan prospek.

Harga logam dasar LME telah menjadi fokus dalam beberapa hari terakhir setelah harga Nikel yang luar biasa, yang disebabkan oleh penghentian pasokan barang dari Rusia setelah invasi ke Ukraina.

Tapi Thompson mengatakan timah bukanlah Nikel. “Timah adalah logam yang sangat berbeda dengan Nikel, baik dalam hal siapa yang menggunakannya, volatilitas, dan karakteristik. Jadi, ada sedikit perbedaan minat spekulatif di pasar timah yang sejauh ini ditempatkan di jajaran terkecil dari komplek logam LME,” ujarnya dikutip dari Stockhead.

Dia mengatakan tidak ada produsen di pasar timah yang akan membangun posisi derivatif seperti short besar yang diambil Tsingshan pada pasar nikel. "Jadi itu (timah) sangat didorong secara fundamental saat ini, harga yang menurut saya benar-benar mencerminkan fundamental," kata Thompson.

Thompson mencontohkan di perusahahannya hampir tidak memiliki stok timah, baik di Shanghai maupun di LME. Afri Tin  hanya memiliki stok baik produsen maupun konsumen di bursa. Sehingga harga  timah yang naik hingga US$50.000 per ton adalah cermin dari faktor fundamental pasar timah.



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL