Harga Timah Makin Rontok, Hingga Mei Kenaikan Tersisa Tiga Persen

Abeng    •    Senin, 09 Mei 2022 | 09:16 WIB
Ekonomi
Ilustrasi. (net)
Ilustrasi. (net)

PANGKALPINANG, wowbabel.com -- Tren menurun  logam dasar   di London Metal Exchange (LME) berlanjut pada pada akhir pekan Jumat (6/5/2022). Semua logam dasar amblas, tak terkecuali timah dengan penurunan 2,28% menjadi US$39.450 per metrik ton setelah sehari sebelumnya anjlok 2,8%.

Trading Economics  mencatat harga timah  sejak Januari hingga Apri 2022 meningkat US$1.399  atau 3,60% . Padahal hingga Maret lalu, harga timah sudah naik 20% dengan rekor harga tertinggi US$49.500 per meteik ton.  

"Timah diperkirakan akan diperdagangkan pada US$40.938 per metrik ton pada akhir kuartal ini," demikian menurut model makro global dan ekspektasi analis Trading Economics.

" Ke depan, kami memperkirakannya akan diperdagangkan di  US$43737,15 dalam waktu 12 bulan," tulis Trading Economic dalam publikasi bulanannya  dikutip Senin (9/5/2022). 

Harga timah LME mencapai rekor tertinggi US$51.000 per ton di bulan Maret. Timah naik 91,52% pada tahun 2021 dan bergerak naik 10,42% lagi di  kuartal pertama (Q1) tahun 2022,  ditutup pada level US$42.910 per ton pada 31 Maret. Kemudian terkoreksi pada April hingga 6 Mei di level US$39.450 per metrik ton.

Untuk harga logam dasar LME, tembaga mencapai level terendah enam bulan di tengah likuidasi posisi beli dan pembentukan posisi jual, dalam menghadapi hambatan lanjutan untuk komoditas.

Stok tembaga di gudang terdaftar LME di 170.025 hampir tiga kali lipat selama beberapa bulan terakhir dan berada di level tertinggi sejak Oktober lalu.

Ini telah membebani harga tembaga, yang berada di dekat level terendah sejak Desember. Tembaga turun 0,7% menjadi US$9.424 per ton.

Harga alumunium jatuh ke posisi terendah empat bulan pada hari Jumat karena kekhawatiran tentang permintaan yang diciptakan oleh perlambatan aktivitas manufaktur, terutama di China, konsumen utama dunia, diperkuat oleh dolar yang kuat.

Harga logam yang digunakan secara luas dalam industri listrik, konstruksi dan pengemasan sebelumnya menyentuh US$2.835,5, turun sekitar 30% sejak awal Maret dan level terendah sejak 5 Januari.

"Kekhawatiran tentang pertumbuhan dan hambatan permintaan dari penguncian COVID yang sedang berlangsung di China adalah pendorong utama tekanan jual logam dasar," kata analis AMT Tom Mulqueen.

"Perlambatan pertumbuhan manufaktur global, kenaikan suku bunga Fed dan tekanan inflasi yang lebih luas pada aktivitas ekonomi juga membebani," sambung AMT Tom Mulqueen. 

Stok logam dasar yang dapat dikirim di gudang yang terdaftar di Bursa Berjangka Shanghai menunjukkan pergerakan beragam selama seminggu hingga Jumat 6 Mei, dengan tembaga memperoleh kenaikan terbesar dalam persentase sebesar 8,1%, dan nikel mencatat penurunan terbesar dengan 3,4%.

Persediaan tembaga meningkat sebesar 3.928 ton menjadi 52.291 ton setiap minggunya. Aliran masuk terbesar adalah ke 830 gudang Huangpu di provinsi Guangdong, di mana volume naik 2.396 metrik ton. (wb)



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL