Impor Timah ke China Melimpah Saat Pasar Melemah

Abeng    •    Selasa, 10 Mei 2022 | 17:23 WIB
Ekonomi
Ilustrasi. (net)
Ilustrasi. (net)

PANGKALPINANG, wowbabel.com  -- Pasar global turun tajam karena kekhawatiran atas kenaikan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekspor China memicu kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi dunia.

Saham di pasar Asia-Pasifik, Eropa dan AS semuanya jatuh ke zona merah karena investor khawatir bahwa pertumbuhan global melemah, pada saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengendalikan lonjakan inflasi. Demikian pula dengan harga komuditas logam dar yang mengalami penurunan terbesar.

Semalam, timah di Shanghai Futures Exchange (SHFE)  turun setelah pembukaan yang lebih rendah dengan keluarnya modal jangka panjang. Premi timah spot berubah menjadi diskon dan penjualan di pasar spot buruk menyebabkan peningkatan tajam dalam persediaan timah di bawah waran SHFE. 

Persediaan timah di luar negeri China tetap stabil. Timah impor justru masih memiliki keunggulan harga dibandingkan merek dalam negeri Chinan. 

“Masuknya timah impor ke pasar domestik dan permintaan pasar yang buruk menyebabkan harga timah SHFE turun tajam. Timah SHFE diperkirakan turun di bawah ekspektasi untuk pertumbuhan pasokan,” kata analis Shanghai Metals Maret (SMM) dalam laporan pagi, Selasa (10/5/2022).

Sepanjang April 2022, harga timah dunia melemah 6,68% karena pasokan timah memenuhi gudang-gudang. Padahal permintaan timah tidak meningkat karena harga yang mahal. Persediaan timah di gudang LME melonjak 43,6% menjadi 3.030 ton dan persedian stabil hingga pekan pertama Mei 2022.

PT Kliring Berjangka Indonesia akhir April 2022 merilis data catatan perdagangan pasar fisik timah murni batangan di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ).  Sampai dengan Kuartal I 2022, nilai transaksi pasar fisik timah murni batangan mencapai lebih dari Rp5,5 triliun. 

Dari transaksi pasar Fisik Timah ekspor terjadi trasaksi sebanyak 1.640 lot dengan senilai US$ 348,1 juta atau lebih dari Rp4,8 triliun. Sedangkan untuk pasar fisik timah dalam negeri, di tahun 2022 sampai dengan Kuartal I telah terjadi transaksi sebanyak 953 Lot senilai Rp 677,2 Miliar.

Logam dasar baik di Shanghai maupun  LME sebagian besar ditutup dengan kerugian karena pasar pesimis secara keseluruhan. Saham AS jatuh lagi, S&P kehilangan 4000 poin. Dengan demikian, harga komoditas jatuh, dan harga minyak turun 6% intraday, tetapi obligasi AS muncul.

Tembaga LME turun 1,26%, aluminium turun 0,25%, timbal turun 3,43%, seng turun 4,64%, dan timah turun 5,65% pada penutupanpasar kemarin. Sedangan harga tembaga SHFE turun 0,25%, aluminium turun 0,08%, timbal turun 1,98%, seng turun 2,59% dan timah turun 4,7%.

Pasar global turun tajam pada hari Senin karena kekhawatiran atas kenaikan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekspor China memicu kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi dunia.

Saham di pasar Asia-Pasifik, Eropa dan AS semuanya jatuh ke zona merah karena investor khawatir bahwa pertumbuhan global melemah, pada saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengendalikan lonjakan inflasi.

Saham turun setelah pertumbuhan ekspor China mencapai level terendah hampir dua tahun di 3,9% per tahun di bulan April, turun dari 14,7% di bulan Maret. Impor datar, karena wabah Covid di China memangkas permintaan dan mengganggu manufaktur.

Analis mengatakan perlambatan menunjukkan bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia menderita dari penguncian di kota-kota besar seperti Shanghai, yang telah mempengaruhi produksi pabrik dan mengacaukan rantai logistik.

“Dua kekhawatiran terbesar adalah rantai pasokan dan dampak inflasi, termasuk suku bunga yang lebih tinggi. Sebagai akibat dari penguncian Covid yang parah, pertumbuhan ekspor China berada pada level terendah dalam dua tahun," kata Mihir Kapadia, kepala eksekutif Sun Global Investments. 

“Gangguan rantai pasokan pada gilirannya akan berdampak pada pendapatan perusahaan di seluruh dunia, dan dengan demikian saham mereka,” tutupnya. (wb)



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL