Ratusan Balita di Bangka Barat Alami Stunting, Kasus Tertinggi di Babel

Chairul Aprizal    •    Kamis, 19 Mei 2022 | 12:31 WIB
Lokal
Caption: Kepala perwakilan BKKBN Provinsi Bangka Belitung, Fazar Supriadi. (rul/wb)
Caption: Kepala perwakilan BKKBN Provinsi Bangka Belitung, Fazar Supriadi. (rul/wb)

MUNTOK, www.wowbabel.com -- Kepala perwakilan BKKBN Provinsi Bangka Belitung, Fazar Supriadi ungkapkan masalah Stunting di Kabupaten Bangka Barat selalu menjadi yang tertinggi tiap tahunnya.

Usai pengukuhan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Bangka Barat, di OR II Pemkab Bangka Barat bersama Bupati Bangka Barat, Kamis (19/05/2022).

Fazar menyebutkan, pada tahun 2022 ini Kabupaten Bangka Barat masih menjadi yang tertinggi di Provinsi Bangka Belitung mulai dari awal penanganan stunting tahun 2018.

"Jadi harapan kita ada kegiatan pengukuhan TPPS ini secara bersama-sama melakukan intervensi baik gizi sensitif maupun gizi spesifik sehingga bisa cepat penurunan stuntingnya," ucap Fazar.

Setuju dengan pernyataan Bupati Bangka Barat, Fazar menuturkan bahwa penanganan masalah stunting tidak bisa dikerjakan oleh satu dinas saja.

"Harus bersama-sama turun ke daerah-daerah yang memang stunting-stuntingnya yang tinggi di Bangka Barat ini yang tingginya di Kecamatan Kelapa dan Simpang Teritip itu harus diturunkan," katanya.

Menurut data Desa Lokus Intervensi Stunting Kabupaten Bangka Barat Tahun 2022 ada di Kecamatan Simpang Teritip yaitu, Desa Simpang Gong sebanyak 23 balita (jiwa), Desa Ibul sebanyak 59 balita (jiwa), Desa Peradong sebanyak 37 balita (jiwa), Desa Kundi sebanyak 78 balita (jiwa), Desa Simpang Tiga sebanyak 85 balita (jiwa), Desa Air Menduyung sebanyak 37 balita (jiwa), dan Desa Bukit Terak sebanyak 36 balita (jiwa)

Dan di Kecamatan Kelapa yaitu, Desa Dendang sebanyak 83 balita (jiwa), Desa Tugang sebanyak 60 balita (jiwa), Desa Tuik sebanyak 14 balita (jiwa), dan Desa Pangkal Beras sebanyak 46 balita (jiwa).

"Kebetulan stunting ini kan berhubungan dengan pernikahan usia muda yang tinggi itu salah satu yang penyebab langsung stunting karena menikah usia muda rata-rata itukan belum siap secara fisik," tutur Fazar.

Fazar menuturkan penyebab lain stunting berkaitan juga dengan pola asuh yang pada kasusnya catin perempuan ini kebanyakan berpendidikan rendah mulai dari tamatan sekolah dasar.

"Pengetahuannya terbatas sebenarnya dia bisa menambah pengetahuannya melalui hape itukan banyak ilmu-ilmu buka paman google kan banyak tetapi kan tidak dilakukan yang dilakukannya yang lain-lain tiktok dan sebagainya lihat baju paling yang dilihatnya," terang Fazar.

"Kalau kasus di Bangka Tengah itu dua puluh persen, kalau di Belitung Timur itu dua puluh dua persen, kalau di Bangka Barat dua puluh tiga koma lima persentasenya paling tinggi", tambahnya.

BKKBN Provinsi Bangka Belitung memiliki 3 poin penting untuk penanganan stunting yakni, mendampingi catin yang hendak menikah kerjasama dengan KUA melakukan pemeriksaan dan pemahaman tiga bulan sebelum pernikahan, pemantauan kehamilan usai menikah, dan setelah lahir pemantauan gizi anak.

"Tokoh agama, tokoh masyarakat juga harus berkontribusi contohnya kalau khatib Jum'at harus dibicarakan juga mengenai pembangunan keluarga tidak hanya semata-mata mengikuti hawa nafsu," tandasnya. (rul/wb)



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL