Pentingnya Ruang Konservasi di Provinsi Bangka Belitung

Jurnalis_Warga    •    Rabu, 25 Mei 2022 | 16:43 WIB
Opini
ilustrasi.(net)
ilustrasi.(net)

Oleh: Aida Rahma Nur Aisyah Sidik (Mahasiswa Sosiologi Universitas Bangka Belitung)


Indonesia merupakan negara dengan isi flora dan fauna yang sangat melimpah. Bahkan luas hutan di ndonesia mencapai 125.797.052 Ha dengan realisasi penetapan hingga. Bayangkan begitu banyaknya flora dan fauna yang ada di dalam hutan tersebut. 

Fungsi dari flora dan fauna tersebut tidak lain untuk keseimbangan ekosistem yang ada di alam. Selain alam digunakan untuk mencari makanannya, alam juga berperan untuk mempertahankan habitatnya. Jika alam rusak, maka flora dan fauna akan kehilangan 2 hal sekaligus, yaitu makanan dan habitatnya. Maka dari itu kita sering menemukan kelangkaan pada hewan dan tumbuhan. 

Hal itu dikarenakan karena hilangnya habitat asli dari tumbuhan dan hewan di alam. Menurut boombatis sekurangnya ada enam binatang asli Indonesia yang tercatat sudah punah. Masih banyak lagi hewan-hewan lainya yang juga punah karena kerusakan alam di indonesia.

Bangka Belitung juga memiliki hewan endemik, yaitu mentilin. Kita bisa saja kehilangan hewan endemi tersebut karena kelalaian tidak menjaga keseimbangan ekosistem. Cara menjaga ekosistem agar tetap seimbang bisa dengan berbagai cara. Salah satu caranya yaitu dengan tidak menebang sebarangan pohon dan juga menjaga lingkungan rawa dengan tidak menambang timah ilegal. Karena hal tersebut daat merusak habitan dari hewan hewan yang ada disekitarnya.

Keberadaan hewan tersebut harus kita jaga. Hal ini dilakukan untuk keseimbangan ekosistem yang ada di bangka belitung. Belakangan ini maraknya pemeliharaan hewan langka ilegal juga menjadi penyebab adanya kepunahan. Bayangkan berapa banyak hewan yang hidup di bawah tekanan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. 

Saya pernah ikut andil dalam penyitaan hewan yang dilindungi, jenis hewannya adalah primata jenis Owa. Penyitaaan tersebut dilakukan di daerah Kelurahan Dul Kecamatan Pangkalanbaru, Bangka Tengah. Sebenarnya saat itu hewan tersebut bukan hasil sita paksaan. Melaikan kesukarelaan pemilik hewan tersebut. Karena pemilik hewan tersebut sadar bahwa hewan sejenis owa tersebut tidak dapat hidup didalam ruang yang kecil. 

Hewan hasil sitaan tersebut dibawa ketempat konservasi milik alobi, untuk dilepaskan nantinya di daerah kalimantan. Pada kenyataannya masih banyak hewan hasil sitaan yang di konservasi sementara di tempat konservasi milik Alobi yang luasnya hanya 3 hektar itu.

Terkadang juga para penggiat flora dan fauna ini kebingungan untuk melepaskan hewan-hewan hasil konservasi sementara tersebut. Karena tidak adanya tempat atau hutan konservasi tetap yang tidak membahayakan masyarakat ataupun hewan tersebut di bangka ini. 

Banyaknya hewan sitaan seperti buaya yang disita karena meresahkan warga. Lalu akhirnya di bawa pihak Alobi tempat konservasi sementara lalu saat pelepasan terkadang kebingungan. Karena fungsi hutan sebagai penyeimbang ekosistem tidak terjalankan dengan baik.

Diharapkan setelah kejadian seperti ini Pemerintah Provinsi  Bangka Belitung lebih peduli lagi mengenai keberlangsungan alam di Bangka Belitung ini. Karena yang peduli terhadap alam khususnya di Bangka Belitung ini adalah diri kita sendiri. Dan diharapkan juga pada pemerintahan untuk membuat ruang konservasi untuk satwa satwa yang kehilangan habitnya di alam., agar keseimbangan alam tetap terjaga.(*)




BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL