Bangkit Bersama Gen Z Jaga Eksistensi Pancasila

Jurnalis_Warga    •    Selasa, 31 Mei 2022 | 16:11 WIB
Opini
Tsulis Amiruddin Zahri (Dosen Pendidikan Pancasila Universitas Bangka Belitung).(ist)
Tsulis Amiruddin Zahri (Dosen Pendidikan Pancasila Universitas Bangka Belitung).(ist)

Oleh: Tsulis Amiruddin Zahri (Dosen Pendidikan Pancasila Universitas Bangka Belitung)

HARI LAHIR PANCASILA diperingati setiap tanggal 1 Juni. Pada peringatan 1 Juni 2022, tema yang digaungkan oleh pemerintah adalah ‘Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia’. Pertanyaannya, peradaban dunia seperti apa yang hendak kita bangkitkan melalui Pancasila?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita sejenak mengurai bersama tentang bagaimana Pancasila dulu dan sekarang dimaknai dan dikampanyekan. Pertama, era kepemimpinan presiden soekarno. Narasi tentang implemenasi nilai-nilai Pancasila diwujudkan dengan upaya melawan penjajahan. 

Semangat nasionalisme warga didorong kuat untuk mengusir belanda yang masih berusaha merebut wilayah Indonesia pasca kemerdekaan dideklarasikan. Pancasila dimaknai sebagai perlawanan terhadap pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Republik Maluku Selatan (RMS), Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), DI/TII, hingga PKI Madiun 1948 dan G30S PKI. 

Kedua, era Presiden Soeharto, kampanye Pancasila dilakukan dengan Program Penghayatan Dan Pengamalan Pancasila (P4). Pancasila dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap komunisme. Ketiga, era reformasi, Presiden BJ Habibie membuat UU Nomor 9 tahun 1998 tentang Kebebasan Berpendapat Di Muka Umum. Pancasila dimaknai sebagai ideologi yang bisa diinterpretasikan sesuai perkembangan zaman.

Sekarang, melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), pemerintah mengamanatkan supaya Pancasila mampu terus eksis di tengah isu dan tantangan modernitas, apalagi pesatnya teknologi digital. Maka BPIP membuat akun media sosial sebagai jawaban. 

Era digital membuat warga negara punya opsi yang terbuka untuk mengenal ideologi-ideologi di luar Pancasila. Apabila pemerintah punya perhatian untuk memetakan perbincangan di media sosial, bisa jadi akan menemukan fakta bahwa arus informasi mengenai ideologi Pancasila tak sebanyak perbincangan mengenai semangat keberagamaan ekslusif, euforia idola K-Pop, dan perbincangan tentang liberalism. Walaupun secara organisasi, pemerintah telah menutup akses bagi siapa pun yang bergerak mengampanyekan ideologi di luar Pancasila. 

Hadirnya BPIP belum menjawab banyak persoalan mengenai bagaimana Pancasila mampu diterima dan hadir dalam kehidupan sehari-hari generasi muda, atau yang sekarang akrab dikenal sebagai Gen Z.

Gen Z memiliki karakeristik yang menggemari teknologi, fleksibel, lebih cerdas, dan toleran terhadap perbedaan budaya. Masalahnya, materi tentang ideologi Pancasila di media sosial sampai hari ini masih terbatas pada slogan, hastag, dan twibbon. Fenomena itu semacam gebyar pasar malam, yang tak bertahan sampai esok hari. Apalagi, pemerintah biasanya memperingatinya dengan upacara bendera yang durasinya satu hingga dua jam saja. 

Artinya, upaya untuk melestarikan ideologi Pancasila hanya seperti menabur garam di lautan. Sedangkan, perang ideologi tersebar masif dan ramai diperbincangkan setiap waktu di media sosial.

Apabila metode pengenalan terhadap Pancasila masih saja sebatas slogan “aku Pancasila” maka soal waktu saja, ditinggalkan oleh Gen Z. Mereka butuh penjelasan yang rasional, kenapa Pancasila harus hadir dalam kehidupan mereka yang berubah secepat kilat. Apalagi fenomena obrolan dari para konten kreator di media sosial yang hidupnya penuh dengan flexing dan terlalu menjunjung faham liberalisme, tentu sebuah ancaman. 



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL