Orang Tua Cukup Ingat Kode Angka 8 untuk Cegah Buah Hati Terkena Stunting

Jurnalis_Warga    •    Jumat, 10 Juni 2022 | 22:39 WIB
Opini
Chairul Aprizal, SKM (ist)
Chairul Aprizal, SKM (ist)

Oleh: Chairul Aprizal, SKM (Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Bangka Belitung. Bertugas di bidang Promkes UPT Puskesmas Air Bara Kabupaten Bangka Selatan)


Salam Sehat. Stunting atau kerdil merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Tentu tidak ada satupun orangtua didunia ini menginginkan anaknya stunting karena setiap orangtua ingin buah hatinya bisa bertumbuh menjadi manusia yang baik.

Persoalan ini masih menjadi hal yang penting untuk dapat dituntaskan di provinsi Bangka Belitung karena di beberapa kabupaten/kota masih ditemukan kasus stunting yang perlu segera ditangani. Perwakilan BKKBN Provinsi Bangka Belitung sendiri sudah membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten/Kota masing-masing.

Angka kasus stunting tertinggi di Provinsi Bangka Belitung itu sendiri masih dipegang oleh Kabupaten Bangka Barat. Sejauh ini persoalan stunting khususnya di Kabupaten Bangka Barat adalah hal yang masih diupayakan pemerintah untuk dapat dituntaskan sejak tahun 2018 sebesar 23,5 persen, selain itu ada Kabupaten Belitung Timur sebesar 22 persen dan Kabupaten Bangka Tengah sebesar 20 persen.

Menurut data Desa Lokus Intervensi Stunting Kabupaten Bangka Barat Tahun 2022 ada di Kecamatan Simpang Teritip yaitu, Desa Simpang Gong sebanyak 23 balita (jiwa), Desa Ibul sebanyak 59 balita (jiwa), Desa Peradong sebanyak 37 balita (jiwa), Desa Kundi sebanyak 78 balita (jiwa), Desa Simpang Tiga sebanyak 85 balita (jiwa), Desa Air Menduyung sebanyak 37 balita (jiwa) serta Desa Bukit Terak sebanyak 36 balita (jiwa).

Dan di Kecamatan Kelapa yaitu, Desa Dendang sebanyak 83 balita (jiwa), Desa Tugang sebanyak 60 balita (jiwa), Desa Tuik sebanyak 14 balita (jiwa), dan Desa Pangkal Beras sebanyak 46 balita  (jiwa).

Sependapat dengan pernyataan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bangka Belitung, bahwa memang dominasi tingginya kasus berkaitan erat dengan pernikahan usia dini yang tinggi karena belum siap secara mental dan pengetahuan yang rendah.



BACA JUGA
MEDSOS WOWBABEL