WALHI : Indra Ambalika Diskreditkan Nelayan

Abeng    •    Kamis, 29 Maret 2018 | 22:03 WIB
Lokal
Walhi Babel. (ist)
Walhi Babel. (ist)

WOWPANGKALPINANG - Pernyataan kontroversial Dosen Universitas Bangka Belitung (UBB), Indra Ambalika menuai kritik dari nelayan di provinsi Bangka Belitung (Babel). Pernyataan yang beredar di media seakan mengkambing hitamkan nelayan, terkait kerusakan ekosistem laut dan aktifitas tambang laut yang dikatakan tidak mempengaruhi hasil tangkapan nelayan.

Keterangan pers Walhi menuding bahwa Indra mengatakan, “Jika harus dibandingkan, justru Bagan-bagan inilah yang cenderung merusak ekosistem laut karena ikan-ikan kecil jadi ikut terjaring.’’ 

Menurut Ali, Koordinator Persatuan Nelayan Tradisional dan Pesisir Kabupaten Bangka, pernyataan Indra yang merupakan seorang akademisi dan dosen tersebut sangat mencederai profesi nelayan.

"Pandangan 'kacamata kuda' terhadap aktifitas tambang laut sangat jauh dari argument seorang akademisi dan dosen," kata Ali seperti keterangan pers Walhi Babel yang diterima, Kamis (29/3/2018) malam.

Ali menambahkan, nelayan telah secara arif dan bijaksana dalam menjaga kesinambungan ekosistem laut daripada aktifitas tambang laut yang mengeruk dan mengeploitasi laut dengan meninggalkan limbah, sedimentasi, kerusakan terumbu karang dan hilangnya habitat ikan oleh aktifitas Kapal Isap Produksi (KIP).

Hal senada juga diungkapkan Ketua Serikat Nelayan Air Nyatoh Asbaru yang akrab disapa Baba. Dia menilai pernyataan Indra Ambalika jauh dari seorang akademis.

 “Lebes budu dari ku yang dak sekulah ne (asal bicara dari aku yang tidak sekolah), tambang laut telah mengancam periuk nasi kami dan merusak tempat kami mencari nafkah," ujar Baba.

Sementara, Direktur Eksekutif WALHI Kepulauan Babel, Ratno Budi mengungkapkan Provinsi Babel diambang bencana ekologi oleh aktifitas pertambangan di darat maupun laut. Daya dukung dan daya tampung lingkungan, kata Ratno, sudah tidak mampu mengemban 1.173 Izin Usaha Pertambangan dengan luas mencapai 1,1 juta hektar (Luas Babel 1,6 juta hektar) yang berada di darat dan laut Provinsi Babel.

Ratno menambahkan, bahwa aktifitas tambang laut menghancurkan wilayah tangkap nelayan yang berdampak pada sumber penghidupan 45.000 nelayan di Babel.

"Pernyataan Indra Ambalika sangat mendiskreditkan nelayan dan bertolak belakang dengan kondisi dan fakta-fakta di lapangan," tukas Ratno.

Hasil kajian dan monitoring Ekosistem Terumbu Karang WALHI Babel mengungkapkan, bahwa hasil pengambilan sampel di beberapa titik di kabupaten Bangka yaitu kualitas air dan sedimen sudah melebihi baku mutu (KepMen KLH No 51 tahun 2014).

Penulis : Ana



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL