Kawin Massal Desa Serdang, Saksi Sejarah Kejayaan Lada di Negeri Junjung Besaoh

ADVERTORIAL    •    Sabtu, 27 Oktober 2018 | 21:50 WIB
Hiburan
Pengantin nikah massal Desa Serdang, Bangka Selatan. (Wowbabel)
Pengantin nikah massal Desa Serdang, Bangka Selatan. (Wowbabel)

WOWUNIK - Tradisi pernikahan massal di Desa Serdang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali digelar, Sabtu (27/10/2018). Sebanyak tujuh pasangan suami istri duduk dipelaminan secara bersamaan.

Pejabat daerah Kabupaten Bangka Selatan serta sejumlah Pejabat dari Pemerintah Provinsi Bangka Belitung turut hadir menyaksikan kemeriahan  tradisi pernikahan massal Desa Serdang yang digelar tiap tahun ini.

Para tamu undangan disambut hangat oleh pemerintahan Desa Serdang. Diatas karpet merah, tarian selamat datang menyambut para pejabat dan ratusan para tamu undangan lainnya. 

Panggung pelaminan tujuh pasangan muda mudi itu pun disaksikan ribuan masyarakat baik dalam maupun luar daerah. Pernikahan massal Desa Serdang, memang tidak pernah sepi pengunjung yang ingin menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

 

Riza Herdavid selaku Wakil Bupati Bangka Selatan mewakili Bupati, Justiar Noer mengapresiasi tradisi  pernikahan massal terus dilestarikan pemerintahan Desa Serdang. 

Disamping semakin mempererat tali silaturahmi, tradisi pernikahan massal sekaligus dapat mempromosikan daerah dan bisa menjadi penopang kepariwisataan di Kabupaten Bangka Selatan. 

"Kita semua berharap tradisi ini dapat terus kita lestarikan karena keunikan dan khas inilah bukti keberagaman budaya Indonesia," kata Riza Herdavid dalam sambutannya. 

Banyak filosofi yang dapat diambil dari tradisi pernikahan massal ini, salah satunya sebagai wujud kebersamaan yang ada dalam masyarakat yang masih terjaga.

"Saya berharap kepada seluruh masyarakat  Desa Serdang dan Bangka Selatan untuk bersamaa-sama menjaga dan melestarikan agat tetap menjadi icon daerah masing masing. Pemerintah daerah tentunya sangat mendukung tradisi pernikahan massal ini," tutup Riza. 

Pernikahan massal Desa Serdang terdapat keunikan tersendiri dan menjadi satu satunya yang dimiliki  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bahkan Indonesia. 

Disamping sudah dilangsungkan secara turun temurun mendekati 1 abad lamanya sejak tahun 1935, tradisi pernikahan massal Desa Serdang terdapat ritual cukup unik. 

Dua hari sebelum acara dilangsungkan, setiap rumah diharuskan mengumpulkan beras sebanyak satu bat atau tiga kaleng susu kemudian diserahkan kepada kepala adat. 

Satu hari jelang akad nikah dilangsungkan, malam harinya kepala adat melaksanakan ritual adat Bebanten atau syukuran. Ritual dilakukan oleh kepala adat di ujung Desa. Ritual tersebut dipercaya untuk menjaga keamanan serta keselamatan warga Desa. 

Dihari pelaksanaan, para pasangan akan melangsungkan akad nikah di kediaman masing-masing kemudian diwajibkan duduk bersama disatu pelaminan. Dalam kesempatan itu, kepala adat  memberikan tiga butir lada putih yang wajib dimakan para pasangan serta dipercikkan air kelapa muda kuning. 

Usai ritual dilaksanakan para tamu undangan dan masyarakat memberikan ucapan selamat. Sebelum para pasangan dipersilahkan pulang ke kediaman masing-masing, pasangan terlebih dulu diarak ke seluruh Desa dengan berjalan kaki.

Tak ayal moment ini sangat dinantikan masyarakat. Suasana pun berlangsung meriah,  pasangan pengantin diiringi marching band yang dulunya musik adat melayu serta karnaval budaya. 

Malam harinya menjadi puncak perayaan nikah massal, yang mana setiap rumah mempelai menyuguhkan hiburan musik.

Selain terdapat ritual cukup unik, tradisi pernikahan massal Desa Serdang sekaligus menyimpan sejarah tentang  kedikdayaan Lada putih di Negeri Junjung Besaoh, Bangka Selatan. 

Tradisi pernikahan massal Desa Serdang, dari dulu hingga sekarang dilangsungkan usai panen lada.

"Tradisi pernikahan massal ini dari  dulu hingga sekarang dilaksanakan setiap selesai panen lada," ujar  Apendi, Kepala Desa Serdang.

Mayoritas masyarakat Desa Serdang, memang petani lada dan menjadi sektor andalan masyrakat kala itu. Namun,  kendati lada saat ini tak lagi jadi sektor unggulan masyarakat, tradisi pernikahan massal tetap dilaksanakan usai panen lada.

Ketika era harga lada mengalami boomingnya pada tahun 1980-1990-an, setiap perhelatan nikah massal tak kurang dari 10 hingga 15 pasangan dan 10 hingga 15 band hiburan musik pun tampil disetiap rumah mempelai, suasananya pun seperti festival atau parade musik di Desa Serdang.

Hal itu menunjukan bahwa lada adalah menjadi penggerak ekonomi masyarakat Desa Serdang, kala itu. Usai Panen lada, masyarakat melangsungkan pernikahan tak hanya satu, melainkan dilangsungkan secara massal dan dilangsungkan setiap tahun.

Tradisi pernikahan massal Desa Serdang  terus berlanjut hingga sekarang sekaligus menjadi agenda rutin  Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, melalui dinas pendidikan dan kebudayaan. 

 

Kepala Dindikbud Basel Eddy Supriadi mengatakan, selaku Dinas yang menaungi kegiatan tersebut melalui Bidang Budaya, pihaknya akan terus menyelenggarakan kegiatan tersebut secara rutin setiap tahunnya.

"Karena ritual Budaya Pengantin massal desa Serdang ini sudah menjadi agenda kegiatan Budaya daerah, kami akan adakan secara rutin kegiatan budaya semacam ini harus terus kita lestarikan agar tidak hilang dan sekaligus menjadi wisata budaya Bangka Selatan yang mempunyai daya tarik tersendiri," tukas Eddy Supriadi. (ADVERTORIAL)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL