[OPINI] Hujan Semalam, Banjir Berulang Hari

Jurnalis_Warga    •    Jumat, 08 Maret 2019 | 17:50 WIB
Opini
Oktav Mayang Rencie, S.T
Oktav Mayang Rencie, S.T

BEBERAPA hari ini kita dihadapkan kembali dengan persoalan air yang meluap dan seperti mengamuk memporak-porandakan sarana umum yang dilalui. Di beberapa tempat di Kepulauan Bangka Belitung (Babel), terlihat ramai visual berupa gambar dan video yang diunggah ke media sosial oleh masyarakat di sekitar lokasi banjir berlangsung.

Demikian halnya media cetak lokal, menyajikan informasi bagi publik akan kejadian demi kejadian titik banjir merendam beberapa tempat, baik pemukiman, sekolah dan hancurnya fasilitas, akses jalan dan jembatan. Hujan dengan durasi semalam yang terjadi merata dihampir seluruh wilayah Kepulauan Babel pada tanggal 27-28 Februari 2019, ternyata menyisakan permasalahan bagi masyarakat terdampak pada khususnya dan masyarakat Kabupaten Bangka, atau Propinsi Kepulauan Bangka Belitung secara luas.

Banjir merupakan peristiwa alam yang sering kali terjadi. Penyebab banjir tidak semata-mata dikarenakan oleh hujan dengan durasi waktu yang panjang, meningginya permukaan air laut secara tiba-tiba juga dapat mengakibatkan banjir, bahkan pasang air laut diwaktu peristiwa hujan sedang berlangsung bisa mengakibatkan banjir. Hal ini disebabkan masuknya air laut pada wilayah daratan menahan laju air permukaan yang disebabkan oleh hujan untuk menuju wilayah terendah.

Kondisi ketidakseimbangan yang menggambarkan realita hujan dengan durasi waktu semalam. Akan tetapi, banjir berulang hari menggenangi beberapa desa di pulau Bangka. Tercatat empat Kecamatan di Kabupaten Bangka terendam banjir yang cukup memprihatinkan, Kecamatan Riau Silip Desa Deniang banjir merendam Sekolah Dasar, Kecamatan Sungailiat banjir memutuskan akses jembatan penghubung antara Desa Karya Makmur dan Lingkungan Kelurahan Kuday, Kecamatan Puding banjir merendam akses jalan penghubung antar Kecamatan Puding menuju Kecamatan Pemali dan Kecamatan Pemali banjir merendam jalan penghubung antar desa Sempan.

Meski tidak menelan korban jiwa namun, dampak banjir terhadap warga menyisakan persoalan baru. Terputusnya akses jalan dan jembatan serta fasilitas publik tentu membutuhkan waktu, tenaga dan materi untuk merekondisi jalan agar dapat kembali normal, disisi lain ancaman penyakit muncul pada kondisi pemukiman warga yang terendam banjir dan terhambatnya aktivitas warga untuk melakukan rutinitas sehari-hari.

 

Keseimbangan Air

Alam semesta terancang sedemikan kompleks sehingga kemampuan akal manusia yang terbatas terus berupaya menggali pengetahuan, melalui berbagai teori keilmuan yang terus berkembang, salah satu penemuan teori yang sangat penting adalah pengetahuan teori tentang siklus kesimbangan air di muka bumi yang sering disebut dengan siklus hidrologi.

Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.

Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara terus menerus. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinyu dalam tiga cara yang berbeda:

Evaporasi / transpirasi - Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, hujan es.

Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal di bawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.

Air Permukaan - Air bergerak di atas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut. Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya. Tempat terbesar terjadi di laut. (Wikipedia)

 

Pendekatan Fakta Wilayah Banjir yang terjadi di 2 Kecamatan di Kabupaten Bangka

Pada pendekatan fakta wilayah banjir, penulis membatasi pendekatan pada faktor pengaruh keseimbangana siklus hidrologi diantaranya Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah dan Air permukaan.

1. Banjir yang meluap di Desa Kayu Besi Kecamatan Puding.

Karakteristik banjir yang terjadi berada pada daerah aliran sungai, keseimbanan air pada siklus hidrologi bahwa air permukaan merupakan air yang bergerak di atas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau, makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Dengan demikian dapat diartikan bahwa banjir terjadi akibat landainya lahan dan makin sedikitnya pori tanah pada areal lintasan air hujan menjadi penyebab terjadinya banjir.

2. Kecamatan Sungailiat banjir memutuskan akses jembatan penghubung antara Desa Karya Makmur dan Lingkungan Kelurahan Kuday.

Karakteristik banjir yang terjadi hampir serupa dengan kondisi desa kayu besi kecamatan puding, yang membedakannya air permukaan bergerak melintasi drainase pemukiman warga yang disekitarnya nampak tertahan akibat semak belukar dan sampah. Kondisi ini mengakibatkan debit air meninggi dan meluap disekitar jalan menuju tempat lebih rendah mengikis tanah labil pada areal jembatan.

Melalui pendekatan fakta wilayah banjir yang terjadi disuatu tempat dan identifikasi keseimbangan siklus hidrologi dapat memudahkan penanggulangan banjir. Selain mendorang pentingnya membangun kesadaran warga terhadap bahaya membuang sampah pada Daerah Aliran Sungai, kebersihan drainase pada areal pemukiman perlu dijaga agar tidak menjadi penyebab meningkatnya debit air hujan. selain itu, keterbukaan lahan pada areal perkotaan seringkali menutup permukaan tanah dengan perkerasan beton pada areal  bangunan gedung, sehingga mengakibatkan tertutupnya pori-pori tanah dan proses infiltrasi pada kawasan bangunan perkotaan tidak maksimal, mengakibatkan drainase menjadi satu-satunya tempat air terbuang. Tata kelola Perkebunan, Pertambangan, Perikanan dan Budidaya tentunya penting memperhatikan  aspek keseimbangan siklus hidrologi agar menjadi ramah bagi lingkungan di Propinsi Bangka Belitung. (***)

*** Oktav Mayang Rencie, S.T

www.wowbabel.com menerima naskah tulisan/opini dari masyarakat yang ingin diterbitkan di website www.wowbabel.com. Redaksi berhak menyunting isi naskah tulisan yang masuk. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL