Radikalisme Tak Harus Dilawan Dengan Radikal

International Classical on Asian Community (ICAC) yang merupakan kerjasama One Asia Foundation dengan FISIP Universitas Bangka Belitung (UBB) kembali digelar di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Bangka Belitung, Jumat (12/4/2019).(wb)
International Classical on Asian Community (ICAC) yang merupakan kerjasama One Asia Foundation dengan FISIP Universitas Bangka Belitung (UBB) kembali digelar di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Bangka Belitung, Jumat (12/4/2019).(wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com – International Classical on Asian Community (ICAC) yang merupakan kerjasama One Asia Foundation dengan FISIP Universitas Bangka Belitung (UBB) kembali digelar di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Bangka Belitung, Jumat (12/4/2019).

Pada pertemuan kedelapan ini, menghadirikan nara sumber Eric Hiariej Phd yang membahas Fenomena Radikalisme Religius dan Mutual Understanding. Eric memaparkan tentang bagaimana radikalisme tumbuh, penyebab terjadinya radikal serta cara mengatasi radikalisme.

Menurut Eric , radikalisme bisa disebabkan berbagai faktor, diantaranya kekecewaan, ketidakadilan yang dialami seseorang yang kemudian membentuk suatu kelompok atau faham yang bertujuan ingin memberontak atas ketidak puasan maupun keadilan yang diterima.

Radikalisme tidak hanya mengandung unsur negatif, yang hanya bisa merusak dan menyebabkan perpecahan,  teror yang  menimbulkan korban yang tidak bersalah. Radikalisme positif juga dapat kita rasakan ketika seseorang maupun kelompok bergerak keras membangun hal negatif menjadi positif yang menguntungkan banyak orang.

Eric juga mencontohkan jika sifat radikal dapat timbul dari perilaku sehari-hari, dimana ketika kita mengejek teman dengan sebutan hitam, pendek, cebol, dan sebagainya, secara tidak langsung, kita sudah membuat orang tersebut menimbulkan sikap berontak yang jika lama kelamaan akan meledak seperti bom waktu.

"Radikalisme tidak harus dilawan dengan radikal, dengan menemukan titik tengah. Maka kita dapat melawan radikalisme negatif dengan radikalisme positif, seperti membangun masyarakat tangguh bencana, memberantas kemiskinan,” paparnya.

Sedangkan Mutual Understanding dari fenomena radikalisme ialah, saling mengerti , saling menghargai dan memahami perbedaan, tidak memonopoli kebenaran serta dapat memperbaiki diri maupun negara.

"Sebetulnya kalau kita terjemahkan secara harfia, mutual understanding itu artinya saling memahami. Saling mengerti , dalam praktek yang paling gampang ialah kita saling bisa  menghargai perbedaan, kita tidak boleh saling memonopoli kebenaran, kita harus memberikan kesempatan yang sama pada semua orang , kita harus memaafkan, menerima dan selalu siap untuk memperbaiki hubungan dalam dunia global," ungkap Eric.

Eric yang rela terbang jauh dari Kota Gudeg (Jogjakarta--red) mengapresiasi kelas internasional yang diselenggarakan FiSIP UBB. Menurut Eric , kelas internasional ini merupakan kegiatan yang sangat bagus, dan perlu ditingkatkan. Karena biasanya kegiatan seperti ini bisa digunakan ntuk membicarakan isu kontemporer yang relevan dan sangat berguna serta dapat meningkatkan wawasan mahasiswa.

"Sangat berguna untuk membuka wawasan mahasiswa. Bisa mendatangkan banyak nara sumber yang bisa jadi tempat mahasiswa menimba ilmu,” imbuh Eric.

Dari pertemuan ke IV ini, Sekretaris sosiologi UBB, Luna Febriani, menyimpulkan jika  Mutual Understanding yang dimaksudkan ialah bagaimana sebenarnya kesalahan pertama terhadap radikalisme di Indonesia . Persoalan yang dihadapi di Indonesia , kekecewaannya,  pembahasannya yang bukan mengatasi akar permasalahannya, kesalahan justru bukan pada substansi .

"Radikalisme itukan banyak muncul karena kekecewaan . Akal permasalahannya itu seperti contoh kemiskinan harusnya yang dilakukan untuk Mutual Understanding-nya itu memecah kemiskinan itu sendiri, mengingat selama ini yang dibahas itu hanyalah debat-debat kusir . Kita menarik batas antara kawan dan lawan. Perdebatan kita hanya sebatas kamu radikal dan saya enggak. Itu bukan cara membangun mutual understanding, bagaimana radikalisme negatif itu ditanggulangi dengan radikalisme positif sehingga akar permasalahannya terpecahkan , cara kita untuk menanggulangi potensi radikalisme itu, dengan cara tidak membiarkan mereka membentuk sebuah kelompok tapi merangkul mereka,” tutur Luna.

Kepada seluruh mahasiswa kelas internasional, Luna menegaskan, jangan terlalu mengganggap bahwa kebenaran mutlak ada pada diri kita. Tetapi tidak ada kebenaran mutlak, karena kebenaran itu relatif.(*)

 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL